Sejumlah pejabat di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional belum lama ramai membuat wacana untuk melakukan razia telpon selular siswa sekolah. Meskipun saya tpaham dengan alasan mereka, agar anak-anak sekolah tidak bersentuhan dengan video-video dan gambar porno menyusul bocornya video mesum mirip selebritis, tapi saya tidak setuju jika harus melakukan razia.
Pertama, telpon selular adalah barang pribadi yang sangat hakiki bagi seseorang. Maka, menghargai dan menghormati hak pribadi mestinya dinomorsatukan. Jangan sampai demi mengejar tujuan tertentu yang dianggap baik namun kemudian justeru memperkosa hak-hak azasi siswa. Meskipun siswa masuk kategori anak-anak atau remaja, tapi bukan berarti guru, kepala sekolah maupun institusi lain bisa berbuat seeanknya.
Kedua, seberapa efektif jika razia dilakukan padahal anak-anak masih bisa mengakses video dari rumah maupun dari warnet? Jika memang berniat, beri sangsi pada pemilik warnet yang memberikan fasilitas akses gambar dan video porno.
Ketiga, siapa yang akan melakukan razia? Para guru? Polisi? Polisi moral seperti FPI (Front Pembela Islam)? FBR (Forum Betawi Rembug)? SAtpol PP? Saya pikir lebih pantas jika guru menghimbau siswa untuk menghindari menonton video yang dihebohkan itu daripada menggeledah properti mereka. Atau, kerja sama dengan orang tua untuk berdialog dengan anak-anaknya. Mencerdaskan siswa lebih penting daripada mengintimidasi. Penggeledahan bukanlah solusi. Malah justeru memberikan kesan pembodohan daripada mendidik.
Selain itu, jika pengeledahan itu memang menjadi jalan terakhir yang akan ditempuh, sebaiknya geledah dulu telpon selular dan komputer para calon penggeledah. Biar jujur dan objektif.
Ketika teroris lokal banyak mati terbunuh saat penyergapan saat Densus 88, sebagian masyarakat kita kagum dengan kesigapan tim ini. Sebagian lain, prihatin. Dengan mengusung isu HAM, mereka protes. Ada lagi yang mengatasnamakan perjuangan, malah mengutuk aksi pencegahan polisi tersebut. Bahkan ada yang menghujat presiden karena menurut mereka, maraknya kegiatan teroris disebabkan karena kepemimpinan beliau yang kurang hebat. Di sisi lain, ada yang mengelu-elukan para tersangka teroris yang tewas sebagai pejuang agama yang mati sahid di jalan Tuhan.
Lalu, ketika penyerbuan tentara Israel terhadap para relawan di teluk Gaza terjadi, banyak pihak mengutuk. Sebagian kecewa karena ulah brutal para tentara itu telah membunuh dan melukai orang-orang yang justeru sedang mengusung misi kemanusiaan bagi para korban perang. Sebagian lain dengan mulut dan tulisan penuh kebencian dan sumpah serapah, menghujat Israel sebagai bangsa yang tak bermoral. Bahkan ayat-ayat dari kitab suci di-copy paste untuk menghalalkan hujatan mereka tanpa menyadari bahwa ayat-ayat yang mereka comot sembarangan itu adalah hoax, terjemahan yang dikelirukan oleh orang-orang iseng. Mereka, para pemarah itu, merasa telah menyuarakan pesan Tuhan kepada segala segenap umat dan berharap mendapat pahala karena telah melakukannya.
Saya bergidik mendapati perangai laten dari masyarakat kita. Ternyata, kita sangat pemarah, tak pintar, dan tak bijak. Tidak heran jika perang antar kampung, antar agama, antar suku di sejumlah tempat di tanah air terus berlangsung tak berkesudahan bahkan untuk persoalan sepele. Kita gampang tersulut. Gampang diadu domba.
Easy come, easy go. Orang-orang yang beberapa hari lalu sibuk petantang-petenteng mengotori mulutnya dengan mengutuk Israel, bangsa dan leluhur para nabi dalam agama mereka, tiba-tiba sibuk men-download video mesum selebritis dan dengan gagah saling menukar informasi tentang cerita-cerita yang berhubungan dengan para pemerannya. Luar biasa. Saat itu, mereka lupa untuk googling ayat terjemahan yang berkaitan dengan kemaksiatan. Atau mereka berpikir bahwa dengan menonton atau sekedar bergunjing masih bagian dari mengejar pahala.
Agama saya Islam, agama yang diwariskan oleh orang tua dan para karuhun dan dikatakan berkali-kali oleh para guru agama saya di madrasah dan di SD sampai SMA sebagai the best religion in the world. Saya tak pernah mau mendebat, takut dosa, tentu saja. Namun demikian, saya tak mau menjadi bagian dari stereotip orang Islam Indonesia yang pemarah, penghujat, dan munafik. Saya ingin terus memegang teguh agama saya karena saya yakini kebenarannya. Tapi cara saya beragama, tidaklah kuno dan primitif karena saya hidup tidak di jaman ketika firman dan hadist dicatatkan. Saya percaya agama untuk menjadi panduan hidup, untuk memudahkan dan untuk dikasualkan.
Kita berbuat baik, bicara baik, berpikir baik, menulis hal-hal baik, sebaiknya bukan hanya karena agama menyuruh kita begitu. Namun karena kita manusia terbaik yang pernah Tuhan ciptakan.
Hujan tak turun di Manila, mestinya, seharusnya, menurutku. Padahal desember telah melesak hingga ke ujung. Botol-botol champaigne telah disiapkan. Petasan telah disuarakan. Orang-orang bergegas menyiapkan pesta.
Angin dengan bau puring terawang membalut dahagaku. Masih delapan persimpangan harus aku temui untuk segera tiba di kamar sewa. Seorang lelaki dengan tato ikan pari di kakinya
menengadah ketika langit tiba-tiba redup namun hujan tak juga turun di Manila. Manila adalah segerombolan jeepneys yang turun serentak di jalan-jalan ibarat pawai paskah di negeri-negeri latin. Menggerung mencabuti penumpang satu per satu dari segala arahan ke segala arah. Kabel-kabel telepon menjuntai kelelahan mencumbui kembang sepatu.
Seorang perempuan dengan sol sepatu tebal bergegas. Di tangannya pita-pita berwarna emas dan sekeranjang cinta. Di persimpangan keempat atau kelima perjalananku menuju kamar sewa
yang pada satu bagiannya digenangi air namun bukan oleh hujan karena hujan tak turun pada bulan desember di Manila. Seorang pria dengan tato ikan pari di kakinya dan seorang perempuan dengan sol sepatu tebal akan berpapasan, saling sapa, saling lempar senyum karena pada tangannya membawa pita-pita, sekeranjang cinta, dan segenap cinta. Setelah pertemuan itu, aku akan terus berjalan ke kamar sewa membiarkan lelaki bertato ikan pari dan perempuan bersol sepatu tebal menemui cintanya masing-masing.
Lalu jika nanti aku tiba di kamar sewa, aku ak
an menulis pada sehelai kartu pos untuk aku kirimkan kepada seorang suster muda yang ketika aku melintasi santa agustin ia mengibaskan rosario dan aku tertegun menikmati kecantikannya. Kepada maria, tulisku, jika nanti aku tiba di kamar sewa. Langit kembali gelap namun hujan tak turun di Manila. Sungai Pasig dengan kerumunan eceng yang mengempis kegerahan. Maria adalah sebingkai senyum yang memfosil pada tembok perkara berwarna kecoklatan.
Malam lebih cepat turun di Manila. Bau malta lebih cepat tercium di mulut pintu.
Penjara tua di kota Fremantle, Australia Barat, menjadi salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi jika kebetulan Anda berpergian ke Perth. Dengan manajemen yang baik, gedung yang memiliki sejarah panjang perilaku buruk orang-orang Australia ini dikemas dengan sangat menarik sehingga layak untuk dijual. Selain menghibur, juga memberi efek edukasi yang bernilai kemanusiaan tinggi.
Luna Maya, satu-satunya artis Indonesia yang saya kagumi, sedang dirudung masalah gara-gara menghujat infotainment di Twitter. Karena reaksi infotainment yang berlebihan, saya meradang. Syukurlah, banyak pula yang juga membela Luna.
Mengapa Luna dibela padahal netiket-nya kurang terpuji? Menurut saya ada dua alasan. Pertama, karena semua orang memang menyukai Luna yang selain cantik ragawi, perilakunya juga terpuji, dibandingkan artis lain yang populer tapi karena sensasi bukan karena karya yang dibuat. Kedua, karena banyak orang sudah muak dengan infotainment.
Kultur kita bukan seperti Amerika dimana mengumbar kejelekan orang masih dianggap tidak senonoh meskipun juga disuka. Kita semua berada pada wilayah hipokrit akut yang tahu bahwa bergunjing itu tak baik tapi karena MUI tidak mengharamkan maka dianggap boleh. Untuk beberapa hal urusan dosa, kita seolah telah memasrahkannya pada MUI sebagai dedengkot hakim atas baik-buruk perbuatan.
Saya, kadang juga menonton infotainment dan membaca kolom gosip di Detikom atau Kompas.com. Sekedar untuk menetralisir emosi setelah mengikuti kasus-kasus korupsi yang penuh intrik dan menyesakkan. Dengan melihat kiprah dan penderitaan artis karena tersandung perkara bisa berupa terapi yang menghibur. Saya tidak tahu pasti bagaimana rasanya jadi artis yang digosipkan. Mungkin mereka suka, mungkin juga tidak karena mereka tokh manusia biasa juga. Mungkin juga jadi kecanduan untuk terus jadi objek kamera. Kita bisa menyebutkan satu per satu artis semacam ini. Setiap minggu selalu bikin sensasi dengan berita-berita tidak penting karena muncul si hampir semua infotainment sehingga pemirsa mau tak mau harus menonton karena sudah jadi ritual harian.
Luna dan infotainment. Infotainment suka Luna karena Luna masih malang melintang di jagat hiburan dan dia memang 'seseorang' yang layak tayang, bukan seperti Cut Keke yang sudah lewat masanya. Luna bukan seperti Sarah Azhari yang nakal dan masyarakat maklum atau seperti Dewi Persik yang dengan mudah mengumbar cerita dari wilayah pribadinya. Luna dicari karena dia selalu tutup mulut. Dia tahu sesuatu atau terlibat sesuatu tapi dia tak mau bicara. Luna tahu bagaimana membuat value atas dirinya. Luna, jenius. Maka kita suka.
Pers kita, mereka yang sensitif akan intelektualisme yang mereka punya dan terlalu arogan dengan profesi yang mereka emban, telah jauh bergerak dari UU Pers yang mestinya mereka junjung. Mereka tak ubahnya pelacur, seperti yang Luna tulis, bahkan lebih rendah dari pelacur, betul. Mereka telah mengkhianati korps mereka sendiri dengan menghalalkan segala cara tanpa menghindahkan rambu-rambu dan keharusan mengikuti aturan. Kita lihat, contohnya bagaimana infotainment dan pers, secara umum, telah memvonis seseorang bersalah sebelum pengadilan berlangsung dengan mengabaikan tata cara pemberitaan yang benar.
Pers memang layak ditampar bukan saja oleh Luna, tapi juga oleh kita semua. Supaya mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan selama ini telah jauh dari yang seharusnya. Era liberalisme pers di Indonesia harus disudahi, mereka harus kembali ke akar Pers yang pancasilais, yang menjunjung norma dan tatanan nilai ketimuran.
Jadi, sepatutnya kita memang perlu mendukung Luna Maya.
Selama ini media berspekulasi dengan falsafah di balik lagu 'Tak Gendong' yang dibuat dan dipopulerkan oleh almarhum Mbah Surip. Konon katanya, lagu itu menggambarkan Mbah Surip yang sangat memperhatikan sesama.
Kata 'tak' dalam bahasa Jawa boleh saja berarti 'saya'. Maka reka-reka tentang profil Mbah Surip bisa dikaitkan dengan isi dari lagu ini. Tapi apa benar profil Mbah Surip seperti yang ditafsirkan orang banyak selama ini? Bagaimana kalau kita menggunakan bahasa Indonesia? 'Tak' berarti 'tidak'. Maka sesungguhnya, 'tak gendong kemana-mana' hanya berarti bahwa Mbah Surip tak menggendong apapun atau siapapun kemana-mana.
Mbah Surip, sudah pergi meninggalkan kita. Saya bukan fan beliau. Tapi saya sungguh terinspirasi. Misalnya bahwa tak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan. Semacam, teruslah berjuang hingga akhir khayatmu.
Ya, saya seperti melihat diri sendiri. Saya merasa beberapa fase dalam hidup saya terlambat saya mulai, telat saya dapatkan. Tapi itu menjadi tak berarti penyesalan jika ingat filosofi hidup, tak ada kata terlambat untuk memulai.
Mbah Surip berjuang lama untuk bisa meraih mimpinya jadi seniman yang diakui masyarat luas. Akhirnya tercapai, meskipun tak lama kemudian dia mati. Tak ada yang aneh dengan proses itu. Sebagian orang mengalaminya.
Saya mengamati bagaimana hasil pemilu dan pemilihan presiden di republik kita yang compang camping. SBY yang menang ternyata tak otomatis menang. Anggota DPR atau DPRD yang menang, ternyata juga tak pasti menang. Semua serba membingungkan.
Saya teringat ketika mendapat kabar dari seorang pejabat dari sebuah perusahaan asing di Jakarta, yang mana saya memenangkan pitching sebuah event besar yang sangat bergengsi. Segera saya menyiapkan pasukan dan segala tetek bengek yang diperlukan dalam event. Namun tiba-tiba, ketika begitu banyak waktu, tenaga, pikiran, dan uang sudah saya investasikan, keputusan kemenangan saya dianulir. Saya dinyatakan tidak lolos dalam presentasi. Hah?
Seorang sahabat sudah begitu tenang telah memiliki seorang kekasih dan tengah bersiap untuk meminangnya sebagai isteri. Namun apa daya ketika kekasihnya justeru menjatuhkan pilihan pada pria lain untuk dijadikan suami.
Membayangkan apa yang sudah kita miliki pun sesungguhnya adalah bukan milik kita, membuat mual.
JK-Wiranto menolak hasil penghitungan suara KPU. Mega-Prabowo pun demikian. Jika SBY-Boediono kalah pun, saya percaya mereka akan menolak. Kedua kubu yang kalah telah banyak mencatat praktek kecurangan selama proses pemilihan. Saya pun percaya kalau kelompok SBY-Boediono juga memiliki data kecurangan dari para lawan politiknya di lapangan.
Mega-Prabowo dan JK-Wiranto merasa paling berhak mengajukan gugatan karena mereka kalah. Dengan sejuta alasan mereka berusaha memperpanjang persoalan supaya seolah menjadi pejuang demokrasi. Padahal kita tahu semua orang melakukan kecurangan. Semua orang punya target yang harus dicapai.
Padahal kita semua sejak dari awal sudah yakin pemenang dari pilpres ini adalah SBY.
Beberapa kali saya melihat pernyataan Megawati menyoal iklan satu putaran yang ditayangkan di televisi. Kata beliau, "Betapa sombongnya orang yang mengatakan bahwa dia bisa memenangkan pemilihan capres dalam satu putaran. Padahal pemilihannya saja belum dilakukan." Terus terang, saya sangat geli mendengar pernyataan Ibu kita ini.
Belakangan, Jusuf Kalla pun tidak senang dengan iklan tersebut. Ia bahkan bilang bahwa iklan tersebut ilegal karena tidak diterbitkan oleh tim sukses kubu SBY. Sesungguhnya, iklan ini memang tidak dibuat oleh tim sukses SBY, tapi oleh sebuah lembaga pro demokrasi pimpinan Denny JA, pemilik Lingkaran Survey Indonesia. Namun demikian Mahkamah Konstitusi akhirnya mengetuk palu bahwa iklan tersebut legal.
So, apa salahnya jika pemeilihan capres dan cawapres nanti cukup satu putran saja? Biar kita tak sering-sering pergi ke TPS. Satu kali saja banyak yang enggan, apa lagi dua. Tapi rupanya, bagi Megawati dan JK, pemilihan dalam satu putaran saja telah menyiutkan nyali mereka. Secara psikologis, iklan tersebut seolah telah memberi kesimpulan tentang jumlah perolehan suara kelak.
Kita tentu tak bisa mengabaikan begitu saja angka-angka hasil polling atau survey yang selalu menunjukkan arah bahwa SBY-lah the next leader untuk negeri ini.
Saya mengamati pemberitaan yang ditulis oleh Detikom belakangan ini. Menjelang pemilihan capres dan cawapres, saya mengendus bahwa Detikom terlalu mencolok untuk mendeskreditkan pemerintah atau dengan kata lain SBY. Portal berita ini terlihat nyata lebih mengagungkan kubu Mega-Prabowo.
Dari mulai judul, pilihan berita, isi berita, termasuk dari arah mana berita ditulis.
Menurut saya, Detikom mestinya tak harus melakukan agenda setting sedemikian rupa untuk mendukung golongan tertentu. Mereka harus netral.
"Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan atau ditukar", sepertinya pernyataan sepihak yang biasa dibuat oleh toko ini dipegang teguh oleh Pangeran Fackhry dari Kerjaan Kelantan, Malaysia. Sepihak? Eh, jangan-jangan justeru ini kesepakatan bersama antara pihak kerjaan dengan Ibu dari seorang model bernama Manohara itu. Saya mengendus bahwa ini adalah praktek trafficking perempuan di bawah umur. Sang pangeran yang butuh pendamping, sang bunda yang perlu kemewahan. Deal!
Mengapa pemerintah Indonesia dan Malaysia seolah enggan terlibat dalam penyelesaian kasus ini? Tentu saja, ini kasus domestik yang remeh temeh dibandingkan dengan urusan negara yang luar biasa banyak dan urgen.
Jika sang ibu saat ini berkoar-koar ke media karena anaknya telah diculik dan dianiaya, kita tak harus buru-buru bersimpati. Jika ia sayang dan cinta anak, mengapa ia dengan senang hati melepaskan anak gadisnya yang belum genap berusia 17 tahun ke pihak asing untuk dinikahi? Andai saja ibu ini kuat iman untuk tidak melihat materi sebagai imbalan, kasus ini tak akan pernah terjadi. Saya justeru lebih setuju jika ibu dari Manohara itu yang disidik sebagai saksi karena telah menjual anaknya kepada pihak kerajaan Kelantan.
Bertambah, Korban Pencabulan Mantan Dosen FHUI yang Melapor
Seorang lagi, korban praktik asusila seorang mantan dosen FHUI, melapor ke kepolisian. Laporan dibuat pada hari Jumat, tanggal 17 April 2009 di Unit 1 Renakta Polda Metro Jaya. Pelapor, sebut saja NIKEN (nama samaran), saat ini masih menjadi mahasiswi FHUI.
Untuk mengetahui sepak terjang mantan dosen FHUI, dengan mudah kita bisa menemukannya di internet. Hingga hari Minggu, 19 April 2009, ada sekitar 7,040 artikel yang memuat nama dirinya lewat mesin pencari google. Dari mulai media online komersil hingga blog pribadi masyarakat umum.Reputasi yang telah dibangun seumur hidup untuk menjadi sosok pendidik dan ahli di bidang hukum pidana yang baik, runtuh karena pengaduan para korban.
Sebagai ahli hukum, TN sangat piawai membuat alibi dan pembelaan:
“Hubungan khusus yang saya jalani dengan mantan mahasiswi saya atas dasar saling suka...” kata mantan dosen FHUI kepada VIVAnews, pukul 10.30 WIB,Jumat 31 Oktober 2008.
Sang mantan dosen mungkin lupa, bahwa di republik ini ada KUHP pasal 294.
1)Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikannya ataupun penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangnya atau bawahannya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
2)Diancam dengan pidana yang sama: 1. pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya,
2. pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat pekerjaan negara, tempat pendidikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya.
Pihak Fakultas Hukum Universitas Indonesia tak rela nama baik institusinya ternoda akibat salah seorang Pengajarnya menodai para mahasiswinya. Begitu mendapat pengaduan, Sang Dosen segera dipanggil. Setelah sekian lama dinonaktifkan, kini status Sang Dosen di FHUI sudah jelas, ia telah dipecat.
Keadilan harus ditegakkan. Kita tak boleh diam ketika kedzoliman terus terjadi padahal kita bisa bertindak menghentikannya. Sangat sulit untuk memupuk keberanian pada para korban untuk tidak takut dan malu. Bahkan beberapa korban yang pernah mengadu pun satu demi satu menarik pengaduan mereka.
“Bayangkan Anda perempuan remaja yang dididik untuk patuh, bersikap manis, menghormati tokoh otoritas, dan tidak bicara buruk tentang orang lain. Suatu hari seorang yang sangat berkuasa atas Anda, misalnya guru, memanggil Anda ke ruangannya dan ternyata melakukan tindakan-tindakan tidak patut dan sangat menyakitkan. Apakah Anda akan menceritakannya kepada orang lain?” Kristi Poerwandari, Psikolog. Kompas, 30 November 2008.
Saya sedang siap-siap hijrah ke provider internet lain sejak IM2, kemana saya berlangganan selama ini, selalu bermasalah dalam menyediakan signal baik. Sejak pertama kali saya langganan, sekitar setahun tahun lalu lebih, hingga sekarang, rasanya lebih banyak manahan nafas dari pada happy. Padahal untuk mengeluarkan Rp 350,000 per bulan mestinya saya mendapatkan hal terbaik.
Lalu berita di bawah ini saya dapatkan. Tambah bulat rasanya untuk hengkang.
Rabu, 08/04/2009 07:44 WIB
Internet Indosat Bersiap Naik Harga Andrian Fauzi - detikinet
Bambang W (afz/inet) Bandung - Berbeda dengan anjuran pemerintah untuk menurunkan tarif internet mulai April 2009 ini, Indosat malah berpikir untuk menaikan tarif langganan internetnya. Khususnya untuk akses tanpa batas alias unlimited.
Demikian diungkapkan oleh Head of PT Indosat WJRO Bambang Wirawanto, usai syukuran peresmian IM2 Broadband Service (IBS) di Kedai Nyonya Rumah, Jalan Trunojoyo, Selasa (7/4/2009) petang.
"Sudah saatnya menaikan tarif," tegas pria yang akrab dipanggil Wiwin itu kepada detikINET.
Menurutnya, wacana menaikan tarif internet unlimited sudah disampaikan di dalam rapat direksi. Hal ini karena melihat kenaikan pendapatan dari broadband tidak sebesar kenaikan jumlah pelanggan broadband, dalam hal ini IM2.
"Saya lihat grafik pertumbuhan pelanggan itu naik tajam. Tapi revenue segitu-segitu saja," kata pria penggemar golf ini menjelaskan.
Mendukung ucapan Wiwin, GM Marketing and Channel Management IM2 Rahmat Halomoan Rambe mengungkapkan hasil survey yang dilakukannya, pada dasarnya masyarakat tidak mempermasalahkan harga dalam memenuhi kebutuhannya akan akses internet.
"Yang penting bisa konek dan stabil. Harga nomer tiga," tegasnya.
Vivi Mariska, Vice President Marketing and Promotion PT Melvar Lintas Nusa (Melsa), ISP lokal Bandung, di tempat yang berbeda mengatakan bahwa anjuran pemerintah belum tentu dipatuhi oleh ISP. Menurutnya wacana menurunkan tarif tidak realistis ditengah krisis yang tengah melanda dunia usaha.
"Tarif internet turun, tapi tarif yang lain seperti listrik, telepon dan yang lainnya. Operasional cost kita malah semakin naik. Lagian kita belum menerima edarannya jika memang itu instruksi dari pemerintah. Tapi kalau hanya anjuran, ya, seperti halnya anjuran. Mau dilaksanakan atau tidak terserah kita," papar Vivi. ( afz / rou )
Menurut saya, kesediaan Anda datang dan memilih ke bilik pemilu ada kaitannya dengan tingkat spiritual yang Anda miliki saat ini.Anda tak perlu pintar untuk bisa mengunyah wacana ini. Tak perlu juga dengan emosi yang berlebihan hingga membuang energi yang tak perlu.
Lalu apa rencana Anda hari Kamis, tanggal 9 april 2009? Bekerja? Jalan-jalan karena long week end? Atau sekedar untuk bermalas-malasan di rumah? Anda boleh lakukan apa saja sesuka Anda karena tentu saja Anda seorang yang merdeka. Orang merdeka harus punya keputusan.
Orang merdeka juga punya nurani. Punya harapan. Punya keinginan. Punya pikiran yang terbuka.
Kamis, 9 April 2009 adalah hari dimana nasib bangsa kita akan ditentukan. Anda diundang untuk ikut berpartisipasi menentukan nasib kita bersama. Seperti juga panggilan Ibu kita untuk meminta kita segera mandi saat kita kecil, kenapa tak kita datang dan memilih ketika Ibu Pertiwi kita memanggil? Datang dan memilihlah!
1. Ikhlas Ikhlas meluangkan waktu, melangkahkan kaki ke bilik pemilihan suara, dan mencontreng nama partai atau caleg pilihan. Satu suara Anda, berarti besar bagi republiki ini. Hargai diri Anda setinggi-tingginya maka Anda akan merasa sangat berarti telah melakukan hal yang paling benar di hari itu.
Ikhlas itu adalah sebuah kelas dimana Anda mendapat pelajaran dan ujian. Tugas Anda ringan, hanya menjalani ini dengan sesantai-santainya dan sebaik-baiknya.Ikhlas adalah elemen dari kegiatan ibadah terdalam.
2. Jangan berprasangka Anda tak perlu kuatir terhadap Caleg yang Anda contreng kelak akan bekerja baik atau tidak untuk bangsa ini. Kenapa Anda harus berburuk sangka? Kenapa Anda harus risau dengan sesuatu yang 'kelak' terjadi? Adalah kesia-siaan jika lakukan itu sekarang. Prasangka adalah doa. Berbaik sangkalah. Serahkan semuanya pada sang waktu.Jika Anda percaya akan kekuatan dari Yang Mahapemberi Kekuatan, serahkan semua pada-Nya.
Semoga Anda diberkahi. Semoga bangsa kita lebih baik dari hari ini. Mari, datang dan memilih!
"Anjing dan Babi. Tahun 2007. Anjing dan Babi Ngentot di Pinggir Kali". Sepenggal puisi ini tak lanjut dibacakan oleh pengamen jalanan yang pada Sabtu, 21 Februari 2008 pagi, sekitar jam 6, dikumpulkan oleh RCTI pada suatu daerah di kawasan Blok M. Maksud hati mengangkat derajat pengamen jalanan. Namun rupanya, jalanan terlalu kuat membentuk manusia-manusia dewasa itu hingga tak mampu menempatkan diri. Perilaku mereka, tetaplah wajah jalanan metropolitan yang runyam dan buram. Kotor dan bau. Hingga kata-kata penuh bau-bauan pun begitu mudah meluncur dari para pelakunya.
Wawancara seketika dihentikan ketika sang pembaca acara, Maulana, menyadari bahwa kata-kata yang diluncurkan oleh pengamen jalanan itu dianggap tak senonoh. "Ngentot" adalah kata slang yang memiliki arti berhubungan badan.
Begitulah, repotnya kalau siaran langsung untuk sebuah tayangan televisi. Hal-hal spontan sering terjadi tanpa bisa dikendalikan. Kadang penuh kejutan. Namun, kejutan-kejutan tak baik ini sebetulnya bisa dinihilkan jika persiapan lebih matang dilakukan oleh para crew RCTI.
Ternyata, untuk mendapat skor 7 pada tes IELTS tak begitu mudah. Meskipun sudah cas cis cus bicara lisan, ketika dihadapkan pada serangkaian soal a la IELTS, rasanya pas-pasan benar kemampuan saya.
IELTS digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris kita, terutama jika kita mau bersekolah atau migrasi ke negara-negara persemakmuran Inggris. Namun, saat ini IELTS diterima juga oleh lebih dari 100 negara di dunia termasuk di Amerika.
Saya masih perlu jumpalitan lagi mempersiapkan diri untuk test IELTS berikutnya, karena pada tes lalu, nilai saya masih kurang. Hhhh... Mana untuk daftarnya saja mahal sekali, 180 dolar!
RCTI sedang getol manayangkan liputan tentang pro kontra penggunaan puyer untuk mengobati anak. Tayangan ini jadi polemik di masyarakat. Sebagian pro, sebagian kontra. Sebagian lain bingung. Apa yang RCTI harapkan dari tayangan yang bertubi-tubi ini?
Dalam ilmu komunikasi, ada istilah agenda setting, yaitu agenda yang diset oleh sebuah penerbitan untuk berbagai tujuan. Salah satunya adalah mempengaruhi para pengambil keputusan agar mau memperhatikan kasus ini sehingga turunnya sebuah keputusan. Untuk kasus ini, sepertinya RCT ingin mempengaruhi pemerintah, terutama menteri kesehatan, agar bertindak. Karena puyer dianggap banyak mubazirnya, ibu menteri Siti Fadilla seolah didesak untuk membuat keputusan agar para dokter anak di Indonesia tak lagi memberikan puyer terhadap pasien anak.
Tapi seperti yang kita tahu, sang menteri selalu tulalit dalam menangkap gejala polemik. Dia selalu bersebarangan dengan kepentingan masyarakat banyak. Senangnnya justeru menciptakan polemik baru. Dia menganggap puyer baik-baik saja. Malah katanya, waktu dia kecilpun diberi puyer. Hingga sekarang dia merasa baik-baik saja malah sekarang jadi menteri.
Sama halnya ketika sekian waktu lalu merebak kasus susu formula yang mengandung bakteri yang membahayakan bayi bayi. Saat negara lain melarang beredar merek-merek susu formula yang didapati mengandung bacteri..., ibu menteri kesehatan kita, meskipun sudah diingatkan oleh para ahli dari IPB dan menyertakan sejumlah merek, tetap tak bergeming. Ia menuduh IPB ditunggangi kepentingan Amerika.
Begitulah, kita punya menteri yang tak memiliki keperdulian terhadap keresahan yang melanda kesehatan masyarakat.
Orang-orang yang baru saja mati, apalagi saat mereka tidak begitu siap menghadapi kematian, saat arwahnya keluar dari jasad, mereka akan linglung, bertanya-tanya. Mengapa ini, ada apa ini, mengapa saya...? Untuk bisa menerima keadaan, untuk bisa meyakinkan bahwa mereka sudah berpindah ke alam lain, mereka perlu usaha. Atau setidaknya 'diusahakan'. Perjuangan bisa sehari, seminggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berabad-abad.
Anda silakan menonton 'Passangers' yang dibintangi Anne Hathway atau 'The Other' yang dimainkan oleh Nicole Kidman. Film-film ini membantu Anda untuk memahami hal yang saya tulis di atas. Tentunya jika disertai dengan membaca sejumlah literatur yang berhubungan.
Menonton 'Passengers', kita sedang menyaksikan bagaimana usaha-usaha para arwah menemukan jati diri untuk kemudian sadar sesadar-sadarnya bahwa mereka telah mati. Setelah itu, bagian dari alam gaib itu yang akan menyelesaikan.