Les Petit Mots

Blog EntryNikmatnya Hidup Tanpa MembenciJun 7, '08 6:04 PM
for everyone
Saya ingin mendeklarasikan diri bahwa saya tidak mempunyai musuh. Saya kan bukan politikus atau preman. Seringnya, sekedar sebal-sebalan sesaat. Ingin membenci, tapi jadinya malah sedih. Saya kerap sedih karena orang-orang yang saya percaya malah berkhianat. Dampaknya saya malas sekali berhubungan dengan mereka lagi.

Insyaallah, sebisa mungkin saya memaafkan. Memaafkan adalah hal yang paling mudah dilakukan. Tapi untuk melupakan, rasanya perlu waktu dan keinginan dari yang bersangkutan untuk memperbaiki. Namun herannya, orang-orang tersebut berlaku seolah tidak ada apa-apa. Oh, kalau begitu, memang sudah sifat mereka. Tinggal saya sendiri yang perlu bekerja keras memaafkan dan melupakan. Ingat anjuran para ustadz, hati harus dijaga agar jauh dari penyakit hati. Biar selamat dunia dan akhirat.

Bila dipikir-pikir, sangatlah sulit menjauhkan diri dari 'gesekan' dengan orang lain. Di tempat kerja, dalam organisasi, bertetangga, bahkan dalam pertemanan, kita sering kali terlibat dalam berbagai masalah yang berpotensi retaknya hubungan. Kadang dalam sekejap bisa teratasi, kadang rumitnya bukan main.

Sejujurnya, saya manusia yang enggan berkonflik. Ketika dalam organisasi terjadi konflik hebat, saya mungkin lebih senang mengundurkan diri dari pada pura-pura happy padahal hati mendongkol. Setelah lama terjadi konflik yang tidak sehat di suatu kantor di mana saya bekerja, saya memilih mundur. Dan ternyata, hingga bertahun-tahun saya keluar, konflik-konflik sama terus terjadi. Saya berkesimpulan karena orang-orang yang biasa berkonflik masih bercokol di sana dengan mempertahankan pola pikir yang klasik.

Ketika saya berbisnis dengan seorang sahabat yang ternyata dia berperilaku tidak adil, saya memilih keluar dari hubungan bisnis itu. Saya tidak tega membiarkan hati saya nelangsa. Tak mau mengasihani diri dengan terus-terusan dianiaya.

Mungkin saya bukan orang yang tegar. Namun biarlah. Saya hanya tak ingin membenci.



Blog EntryAndai Saya Penganut AhmadiyahJun 7, '08 5:44 PM
for everyone
Ketika sebagian masyarakat Indonesia akhir-akhir ini ramai meminta pemerintah agar Ahmadiyah dibubarkan, mungkin saya naif. Saya sama sekali tidak tergerak untuk mencari tahu mengapa kelompok ini harus dibubarkan? Apa yang salah dengan Ahmadiyah? Apa beda Ahmadiyah dengan Muhammadiyah? Begitulah kira-kira pertanyaan yang ada di benak saya sekarang.

Dan saya belum tergerak mencari tahu apa yang menjadikan Ahmadiyah harus dibubarkan.

Sejak saya sangat kecil, tak jauh dari rumah orang tua di Bogor, berdiri sebuah mushola bercat putih dengan papan nama di depannya: bla bla bla... Ahmadiyah. Ibu pernah memberitahu bahwa Ahmadiyah semacam aliran. Ibu juga menyebutkan siapa saja tetangga yang masuk dalam kelompok ini. Setahu saya, kami hidup berdampingan sangat damai. Bahkan tanpa gesekan sama sekali. Ibu menambahkan, Ahmadiyah itu semacam Muhammadiyah,  Syiah, Suni, dan lain-lain. Setiap aliran biasanya meyakini sesuatu yang kadang berbeda dan mungkin bertentangan dengan aliran lain. Sungguh saya lupa Ibu pernah bicara apa lagi tentang apa yang membedakan aliran ini dengan aliran lainnya. Bagi saya saat itu, silakan berbeda. Tokh resiko dan tanggung jawab mestinya ditanggung oleh setiap makhluk. Seperti juga bagi penganut keyakinan lain seperti Budha, Hindu, Kristen...

Waktu saya di sekolah lanjutan atas, saya memiliki seorang sahabat yang juga berasal dari kelompok ini. Karena rumahnya jauh dari sekolah, ia menginap di asrama mesjid milik kelompok Ahmadiyah. Saya sering bermain ke mesjid di mana dia tinggal dan menumpang sholat. Saya tak pernah bertanya ini-itu. Bagi saya waktu itu, bersahabat dengan dia adalah hal yang sangat wajar.

Saat-saat ini banyak pihak menginginkan Ahmadiyah dibubarkan. Saya langsung memikirkan bagaimana dengan mushola bercat putih dekat rumah saya? Bagaimana dengan para tetangga, sahabat saya, dan keluarganya?

Bayangkan. Jika saya berada dalam keluarga penganut aliran Ahmadiyah yang sejah kecil sudah dididik dan meyakini hal-hal yang paling benar terdahap sesuatu. Lalu tiba-tiba setelah saya dewasa, orang-orang menunjuk hidung saya bahwa semua yang telah saya lakukan dan yakini adalah keliru dan sesat!

Apakah saya lalu akan merubah keyakinan saya dan mengganti dengan sesuatu yang bagi saya baru? Atau bertahan dan berjuang? Entahlah. Yang jelas pastilah bingung.

Lagian, mengapa baru sekarang Ahamdiyah dihujat salah?


Blog EntryKisah Segelas KopiJun 4, '08 5:00 PM
for everyone
Saya bukan peminum kopi. Tapi suatu malam saya mimpi. Dalam mimpi itu, saya minum secangkir kopi yang rasanya nikmaaat sekali. Keesokan harinya, sepulang berenang saya mampir ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa sachet kopi. Karena setelah itu banyak urusan, niat menikmati kopi belum terlaksana.

Sore itu saya harus berkemas menuju sebuah meeting di kantor seorang sahabat. Saya minta disuguhi kopi! Hmm. Saya coba merasakana sensasi segelas kopi. Nikmat betul memang.

Dan malamnya, hingga hampir subuh saya tak bisa tidur.

Blog EntryApa yang Perlu Dilakukan terhadap FPI?Jun 3, '08 4:19 AM
for everyone
Ketika kejadian penyerangan FPI terhadap peserta ... ditayangkan di sejumlah acara berita, saya langsung berkomentar pedas. Saya tidak perlu lagi bertanya apa tujuan dari arak-arakan yang diserang itu. Penganiayaan dan pemukulan orang bukanlah tindakan yang bijak.

Tapi istri saya tak sependapat. Ia tak mengijinkan saya berkomentar apa pun tentang kasus tersebut. Katanya: Habib itu orang yang harus dihormati". Nah, kalau habib mencederai dan atau menyuruh untuk mencederai orang, apa masih harus dihormati?"

FPI hebat benar jika ternyata polisi tak berani 'menyentuh'-nya.

Blog EntryDiperas Tetangga: Sebuah Modus OperandiMay 27, '08 7:36 PM
for everyone

Lepas magrib, seorang ibu dengan segerombol pasukan yang jarak rumahnya sekitar seratusan meter dari tempat tinggal saya menggedor pintu rumah. Dia menuntut pertanggungjawaban karena katanya, saya telah melindas kaki anaknya dengan kendaraan yang saya kendarai.

Langsung lusinan pertanyaan keluar dari mulut saya:
Kapan?
Tadi
Jam berapa?
Pokoknya tadi
Kenapa tadi pas kejadian tak teriak?
Ibu siapanya korban?
Teman
Tadi katanya anak?
Di sebelah mana kejadiannya?
Di sana, jalan ini dekat itu...
Bye. Saya tidak lewat jalan itu.

Katanya ada saksi juga, seorang perempuan muda berparas cantik. Pertanyaan sama saya ulangi.
Tadi, barusan.
Tadi apa barusan?
Iya, tadi.
Tadi apa barusan?
Iya, barusan.Ciri-ciri yang menyopir mobil?
Perempuan. Berjilbab.
Bye...

 


Demo anti kenaikan harga BBM memancing keisengan saya untuk membaca kartu tarot. Apakah Pemerintah berani menurunkan harga BBM?

Yes. Harga BBM akan dinaikkan. Tapi jadualnya akan diundur, bukan akhir Mei. Naiknya pun tidak akan sebesar 30%, kemungkinan di bawah itu.

Apakah SBY akan aman hingga akhir masa jabatannya gara-gara menaikkan harga BBM? Kemungkinan masih, meskipun babak belur dihajar berbagai hujaman kritik.

Ah, namanya juga ramalan iseng.


Blog EntryIndonesia Can-lahMay 20, '08 9:56 AM
for everyone

Menyambut peringatan seabad hari Kebangkitan Nasional, bangsa kita menciptakan slogan yang sangat singkat dan padat: Indonesia BISA. Sepertinya mengekor pada dua negara tetangga kita yang telah terlebih dahulu melahirkan sloga-slogan yang pendek. Malaysia pernah mempopulerkan Malaysia BOLEH dan Singapore mengibarkan Singapore ROARS. Mengaum!

Indonesia bisa apa? Tentu, bangsa kita banyak bisanya. Bisa ini itu, tak kalah dengan bangsa lain. Makanya kita perlu bangga dengan kebisaan yang bisa kita lakukan.

Dengan dicanangkannya kata 'bisa' menjadi slogan kebangkitan Indonesia baru, sepertinya disadari atau tidak, kita telah memproklamirkan diri sebagai bangsa plagiat. Anda tentu ingat iklan minuman energi M150. Produk tersebut punya solgan yang selama bertahun-tahun terus diusung: Bisa!

Saya sedang membayangkan, jika seorang asing minta slogan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, apa yang akan kita sebut? Apakah ada kata lain selain 'CAN'? Paling setelah itu, orang asing itu akan berkomentar: Oh, Indonesia kaleng...


Megawati sama sekali tidak menunjukkan belasungkawa ketika Soeharto meninggal dunia. Padahal hampir semua elemen bangsa muncul ke permukaan sekedar untuk mengekspresikan penghormatan terakhir pada mantan presiden itu. Megawati sepertinya belum menyembuhkan luka hatinya atas perbuatan Soeharto di masa lampau kepada Bapaknya. Padahal Soeharto telah berbaik hati tak menyeret Soekarno ke pengadilan.

Saat Sophan Sophian wafat pun, Megawati menenggelamkan diri. Kita tahu bagaimana Sophan pernah mendukung Megawati di partai kepala banteng. Padahal presiden kita yang sedang menjabat saja menyisihkan waktu untuk hadir. Lagi, Megawati belum menyembuhkan luka hatinya karena Sophian pernah bersebrangan prinsip dengannya.

Pemimpin adalah simbol. Ia perlu pura-pura tersenyum meskipun hatinya sedih dan marah. Pura-pura legawa meskipun kalah dan berdarah-darah.

Mega tak pernah mau menyembuhkan luka hatinya. Ia bawa luka hatinya dari masa ke masa, dari jaman ke jaman. Bahkan, kini ia mencalonkan diri untuk menjadi calon presiden pun sesungguhnya sekedar untuk menunjukkan bahwa ia punya luka. Lukanya sangat dalam hingga penuh dendam. Ia tak rela telah dikalahkan. Ia ingin menjadi presiden bukan untuk menyelamatkan bangsa, tapi sekedar untuk menunjukkan ia lebih kuat dari yang lain.

 


Blog EntryWacana: Jika Koruptor Dilarang Masuk ke MallMay 13, '08 5:20 PM
for everyone

Andai saya bisa melobi para pembuat undang-undang, saya akan mengusulkan agar pusat perbelanjaan steril dari para koruptor. Mengapa? Pemilik uang 'panas' biasanya, hawanya ingin belanja melulu. Jadi sebetulnya, tak hanya pusat perbelanjaan, tapi juga pusat hiburan, termasuk restoran.

Caranya? Manajemen pusat perbelanjaan diharuskan memasang signage yang bunyinya kurang lebih: "Koruptor, Keluarga Koruptor, dan Kroninya Dilarang Masuk Mall". Semoga ampuh.

Lebih luas lagi kelak, gedung-gedung dan insitusi lainnya pun diikutsertakan dalam kampanye serupa. Misalnya di bandara: "Koruptor Dilarang Naik Pesawat", di pelabuhan: "Koruptor Dilarang Naik Kapal", pada taksi: "Koruptor Dilarang Naik Taksi", pada bajaj: "Koruptor Dilarang Naik Bajaj".

Tempat lain seperti: "Koruptor Dilarang Masuk Rumah Sakit", "Koruptor Dilarang Pergi ke Dukun", "Mak Erot Tidak Melayani Koruptor". Termasuk Inul Vizta: "Koruptor Dilarang Karaoke". Di hotel-hotel: "Koruptor Dilarang Check In/Bertamu".

Bahkan, Ibu Gito penyalur pembantu yang sering pasang iklan pada pohon-pohon di jalur hijau pun harus berpartisipasi: "Kami Tidak Menyalurkan Pembantu ke Rumah Koruptor".

Semua tempat, semua orang harus anti terhadap tindakan korupsi. Semua pihak harus mendukung. Insyaallah, semua orang akan berpikir ulang untuk menjadi koruptor dan yang sudah jadi, menjadi risih hingga mau berhenti.


Blog EntryWacana: Jika Koruptor Dilarang Masuk ke MallMay 13, '08 5:20 PM
for everyone

Andai saya bisa melobi para pembuat undang-undang, saya akan mengusulkan agar pusat perbelanjaan steril dari para koruptor. Mengapa? Pemilik uang 'panas' biasanya, hawanya ingin belanja melulu. Jadi sebetulnya, tak hanya pusat perbelanjaan, tapi juga pusat hiburan, termasuk restoran.

Caranya? Manajemen pusat perbelanjaan diharuskan memasang signage yang bunyinya kurang lebih: "Koruptor, Keluarga Koruptor, dan Kroninya Dilarang Masuk Mall". Semoga ampuh.

Lebih luas lagi kelak, gedung-gedung dan insitusi lainnya pun diikutsertakan dalam kampanye serupa. Misalnya di bandara: "Koruptor Dilarang Naik Pesawat", di pelabuhan: "Koruptor Dilarang Naik Kapal", pada taksi: "Koruptor Dilarang Naik Taksi", pada bajaj: "Koruptor Dilarang Naik Bajaj".

Tempat lain seperti: "Koruptor Dilarang Masuk Rumah Sakit", "Koruptor Dilarang Pergi ke Dukun", "Mak Erot Tidak Melayani Koruptor". Termasuk Inul Vizta: "Koruptor Dilarang Karaoke". Di hotel-hotel: "Koruptor Dilarang Check In/Bertamu".

Bahkan, Ibu Gito penyalur pembantu yang sering pasang iklan pada pohon-pohon di jalur hijau pun harus berpartisipasi: "Kami Tidak Menyalurkan Pembantu ke Rumah Koruptor".

Semua tempat, semua orang harus anti terhadap tindakan korupsi. Semua pihak harus mendukung. Insyaallah, semua orang akan berpikir ulang untuk menjadi koruptor dan yang sudah jadi, menjadi risih hingga mau berhenti.


Blog EntryBasil Goes to Taman SafariMay 12, '08 8:29 PM
for everyone

Bayi yang lahir prematur katanya ringkih. Jika tidak dirawat dengan hati-hati akan mudah sakit. Tentu saja kami ingin merawatnya dengan baik. Namun tak mau terjebak pada sebuah teori yang justru membuat bayi prematur jadi terkesan sebagai pasien.

Basil, anak kami, lahir ketika usia kandungan baru delapan bulan. Berat badannya cuma 2,1 kg ketika dikeluarkan dari rahim. Alhamdulillah selalu sehat hingga hari ini. Maka, dengan bismillah, entah berapa mall sudah kami kunjungi dengan Basil dalam gendongan. Termasuk ruang pameran, pasar tradisional, hingga ke luar Jakarta.

Kami justru menginginkan agar Basil imun dari berbagai macam penyakit. Dia harus kuat. Dia harus mudah beradaptasi dengan segala cuaca dan lingkungan. Insyaallah.

 

 

 


Blog EntryWacana: Memasang Foto Koruptor pada BillboardMay 12, '08 7:17 PM
for everyone

Apa yang paling menyita perhatian Anda satu dua hari terakhir ini? Demo mahasiswa yang menuntut dibatalkannya kenaikan harga BBM? Gempa di Cina yang membunuh hingga lebih dari 8000 orang? Thomas Cup? Piala Eropa?

Sejanak saya memang memperhatikan isu-isu di atas. Tapi kemudian terus mengusik dan membuat hati tidak tenang adalah ketika menyimak semua berita tentang korupsi. Bikin sesak.

Saking seringnya kasus dugaan korupsi terungkap, membuat saya senewen. Bahkan pernah apathis. Saat seperti itu saya sering ingin menjadi jaksa atau polisi atau Malaikat pencabut nyawa, agar sang koruptor tak membuat banyak dalil agar bebas dari jeratan hukum.

Semakin pintar mereka berkicau, semakin banyak uang di kantong, semakin besar peluang mereka untuk bisa bebas. Hukum kita bisa dibeli. Pengacara kita bisa diatur dengan nominal. Negara kita tinggal menunggu kolaps.

Andai saya berlebihan uang, ingin rasanya menyewa semua ruang billboard yang tersedia di seluruh kota, untuk menampilkan wajah-wajah koruptor. Agar tak hanya mereka yang malu, tapi juga keluarga dan organisasinya. Tentu saja keluarga dan organisasinya harus kena hukuman juga, meskipun tidak langsung. Justru agar sang koruptor bisa jera sejera-jeranya. Termasuk memberikan efek mawas diri buat orang lain. Kalau tidak demikian, spekulasi para pelaku akan terus bertahan dan bermunculan.

 


Apa yang akan terjadi jika pemerintah yang dipimpin SBY jadi mengumumkan kenaikan harga BBM? Negara akan chaos. Ini mungkin benar. Siapa akan rela membelanjakan uang lebih banyak dari biasa untuk membiayai hidup?
 
Mahasiswa sudah turun ke jalan. Semua orang gelisah. Menghitung penghasilan, membandingkan dengan pengeluaran. Siapkah kita menjadi serba kekurangan?
 
 
 

Blog EntryAntara Saya, Bapak, dan Anak SayaApr 21, '08 4:40 AM
for everyone

Setiap kali saya melakukan sesuatu untuk anak saya, diam-diam saya teringat Bapak. Dulu pasti Bapak melakukan hal yang sama juga untuk saya. Setiap kali saya memikirkan segala sesuatu apa pun yang terbaik untuk anak saya, diam-diam saya teringat Bapak. Dulu, pasti Bapak juga memikirkan semua hal terbaik untuk saya.

Apa yang yang saya lakukan untuk anak saya belumlah sebanyak apa yang dilakukan Bapak untuk saya. Jika tahu betapa menjadi seorang Bapak itu tidaklah mudah, mungkin dulu saya tak akan pernah membantah setiap omongan beliau. Mungkin dulu saya tak akan pernah menyakiti perasaan beliau.

Sayang, Bapak sudah lama pergi. Tak ada kesempatan buat saya berbagi cerita tentang suka duka memiliki anak. Andai saja beliau masih ada, tak akan habis kata untuk bertanya ini itu, berkata ini itu. Tentang rupa anak saya yang sedikit ada garis-garis wajah Bapak, tentang tangisannya yang garang, tentang berapa kali setiap malam terbangun untuk ganti popok...

Namun alhamdulillah, saya masih punya Ibu. Saya masih punya saudara, punya sahabat. Kepada mereka saya masih bisa berbagai. Untuk mereka kebahagiaan yang saya miliki ini...


Blog EntryBertemu MariamMar 21, '08 12:21 AM
for everyone

Dalam cerita Islam, Mariam digambarkan perawan yang diberikan kesempatan mengandung oleh Allah meskipun tanpa lelaki yang membuahi. Karena kita beriman, maka tak punya alasan untuk kita untuk tidak mempercayai cerita itu. Bayi yang dilahirnya, kelak bernama Isa.

Menurut alkitab yang dianut kalangan Nasrani, Mariam adalah Bunda Maria, bunda dari Yesus Kristus, perawan yang disucikan karena melahirkan 'anak' Tuhan Allah.

Saya bermimpi melihat Bunda Maria: Saya sedang dalam suatu kendaraan bersama tiga sahabat saya, mereka penganut Katolik. Pada sebuah ujung jalan, samar-samar seperti hollow, saya melihat Bunda Maria sedang mengembangkan tangan dengan kerudung halusnya berkibar tertiup angin. Di sekeliling Bunda Maria, ada beberapa perempuan lain dengan tangan menguncup di dada, dengan kerudung sama-sama melambai tertiup angin.

Ketika terbangun, saya langsung mengirim pesan terhadap salah seorang sahabat yang ada dalam mimpi saya itu. Ketika dia membalas, saya teringat. Hari ini paskah!


Blog EntryGood Morning, Basil Shota Suhud!Mar 9, '08 9:37 PM
for everyone

My very first son, good morning.

Bahagianya hati Abah saat ini. Hidup Abah adalah ibarat planet yang baru Tuhan ciptakan, penuh dengan udara baru, penuh dengan tetumbuhan baru. Engkau pelengkap hidup Abah yang selama ini melompong kosong. Berpijarlah terus, anak terang. Engkau adalah keabadian cinta. Engkau adalah anak panah yang akan membawa segala tujuan Abah, tepat kepada sasaran. Karena engkau adalah energi yang luar biasa membuat Abah terus bertenaga, terus berpikir, terus menghasilkan, terus berjuang.

Good morning, Basil Shota Suhud! Kemarin, hari ini, selamanya... cinta Abah untukmu selalu.


Blog EntryEnough is Enough: untuk Sahabat yang Menipu Mar 9, '08 4:21 PM
for everyone

Seorang sahabat suatu ketika tergopoh-gopoh minta bantuan. Dia sedang merintis karir menjadi freelancer. Bantuan yang dia minta adalah sebuah proposal produksi film. Karena saya punya kemampuan di sana, saya siapkan. Katanya, dia akan mengajak saya dalam projek itu. Bagi hasil. Alhamdulillah. Saya bersukur ada orang yang mempercayai saya dan saya bersedia dengan segala pamrih tentu. Karena kami bicara bisnis, yang saya harapkan tentunya adalah pemasukan materi dan peluang-pelung non materi.

Belum jelas nasib proposal pertama, datang lagi peluang baru dari sahabat saya ini. Saya diminta membuat proposal untuk sebuah event. Lagi-lagi karena saya bisa dan biasa membuat hal demikian, tapi kesulitan saya bisa melakukannya.

Sekian minggu berlalu, kedua proposal saya tak jelas kabarnya. Pernah saya tanya, kata sahabat saya, masih dalam proses presentasi. Saya sabar dan maklum. Berurusan dengan klien memang terkadang sangat sulit dan bertele-tele.

Suatu hari saya mendapat kabar dari seorang sahabat lain, kedua projek yang fondasi konsepnya saya yang buat itu sudah selesai terselenggara dengan mengajak pihak lain. Saya melongo.

Luar biasa sedih. Seorang sahabat yang selama ini saya hargai dan hormati, berani melakukan kecurangan. Sungguh saya pilu. Bagaimana saya bisa memberinya kepercayaan lagi? Saya tak iri dengan rezeki yang dia dapatkan. Tapi mestinya ada cara elegan yang bisa dia lakukan untuk mengabari saya jika ternyata dia tak jadi bekerja sama dengan saya. Tapi kalau dilihat lebih fair lagi, begitu di awal dia komit untuk menjalin hubungan kerja sama dengan saya, dia mesti terus memegang komitmen itu.

Padahal, di luar projek-projek itu, hubungan kami sangat baik. Komunikasi juga sangat lancar. Jadi sepertinya tak ada masalah yang terlihat. Kecuali dia punya alasan lain. Ah, ada-ada saja.

Tapi insyaallah saya sudah memaafkan. Hanya, tak mudah untuk memberikan dia peluang lain. Enough is enough.


Blog EntrySusui Bayimu, Sebelum Hewan yang MelakukannyaMar 7, '08 6:30 PM
for everyone

Menurut saya, perempuan yang menyusui bayinya adalah makhluk termulya di muka bumi ini. Bayangkan, dengan itu ia memberi kehidupan. Tuhan memberikan banyak dispensasi bagi Ibu yang menyusui, misalnya dengan tidak mengharuskan ia berpuasa.

Namun tugas mulya ini tak selalu bisa dilakukan oleh Ibu. Salah satu hambatannya adalah tubuh Ibu belum lancar memproduksi air susu. Air Susu Ibu diberitakan sangat baik untuk bayi agar bisa lebih imun dan dapat meningkatkan kecerdasan.

Memasuki hari keenam, Istri saya mendapati air susunya tak mengalir dengan baik. Hanya beberapa tetes saja hingga tak cukup memenuhi lambung si bayi. Tangisan bayi yang melengking membuat hati pilu.

Dengan sangat terpaksa akhirnya saya meluluskan permintaan istri, mencampur ASI dengan susu formula. Bukan karena issue bakteri yang belakangan ramai jadi topik berita, tapi karena memang saya lebih suka jika bayi-bayi mestinya hanya minum ASI saja. Apalagi bayi saya sendiri. Namun ternyata saya perlu kompromi.

Adalah hak bayi untuk mendapatkan yang terbaik bagi hidupnya. Karena ia belum berdaya menuntut, orang tualah yang mestinya memperjuangkannya. Betapa saya Bapak yang tak berguna. Inisiasi Menyusui Dini tak berhasil dilakukan. Kini ASI ekslusif juga gagal. Maafkan Bapakmu, Anakku.


Blog Entry'Inisiasi Menyusui Dini' Tidak Didukung DokterMar 4, '08 6:14 PM
for everyone

Kami tidak merencanakan melakukan persalinan untuk istri saya di RS Hermina. Hari itu kami ke sana sekedar untuk periksa rutin, mengikuti jadual rokter kandungan yang berpraktek di sejumlah rumah sakit. Kami lakukan pemeriksaan rutin biasanya di RS Pav Kartika, Senen atas pertimbangan jarak dari rumah yang tidak terlalu jauh.

Menyadari pentingnya Inisiasi Menyusui Dini (IMD), jauh-jauh hari saya dan istri sudah mendiskusikan kepada dokter kandungan. Dia sepakat untuk mendukung langkah kami. IMD merupakan proses meletakkan bayi sesaat setelah dilahirkan di dada ibu dalam posisi tertelungkup, baik secara normal maupun operasi. Bayi dengan naluri survivalnya, akan mencari puting ibunya sendiri.

Jangan kuatir bayi akan kedinginan karena suhu tubuh ibu akan menghangatkan. Jangan kuatir bayi menangis terus karena hanya itu yang bisa dilakukan bayi. Mungkin akan waktu hingga bayi meraih dan menghisap puting susu ibu. Faedahnya, luar biasa bagi bayi dan ibu.

Sayang, dokter-dokter yang menangani operasi istri saya tidak mengabulkan permintaan saya. Entah atas alasan apa. Kecewa dan sedih rasanya.

Saya perlu menunggu kelahiran bayi kedua kelak untuk bisa melakukannya.

 

 


Blog EntryOne Person, MultiprofessionFeb 18, '08 8:04 PM
for everyone

Butuh sebuah keberanian dan kedekadan ketika saya memutuskan berhenti dari sebuah pekerjaan yang telah memberikan karir dan beragam fasilitas. Saat itu saya sedang tertarik meditasi. Begitu merasuknya ajaran dan laku meditasi membuat saya kehilangan obsesi akan duniawi. Alam bawah sadar saya bertualang ke rongga-rongga misteri alam semesta.

Saya lalu belajar mendengarkan hati. Bekerja untuk kedamaian, untuk hati. Kaya miskin bukan patokan. Saya ingin mencapai puncak spiritual. Indah sekali proses menuju sana. Namun rupanya, dalam pergulatan menuju 'puncak' yang saya harapkan sesuatu terjadi. Saya mengalami pergolakan iman yang mahadasyat hingga akhirnya saya memilih kembali ke ajaran yang diwariskan oleh keluarga dan kekampung.

Namun saya merasa lebih siap dengan segala kondisi sekarang.

Kembali ke soal karir dan pekerjaan, sepertinya saya terus terlanjur 'mendengarkan' hati bicara. Sampai pada suatu titik, saya memilih untuk menjadi pengajar saja. Saya sadari saya akan kehilangan banyak pemasukan keuangan. Namun saya pasrah. Saya hapus kekuatiran. Saya yakin, Tuhan akan terus bersama saya.

Muda, banyak energi, kreatif, banyak ide. Itulah saya. Saya memulai hidup baru dengan 'terserah', biar Tuhan yang mengarahkan. Makanya saya tak mau putus meminta petunjuk-Nya. Maka ketika kepasrahan begitu lekat, Tuhan telah memilihkan hal-hal baik untuk saya. Satu per satu pekerjaan di luar pekerjaan utama saya mengajar, datang silih berganti. Alhamdulillah.

Kini saya menjalani minimal tiga profesi sekaligus: dosen, photographer, dan event architect. Saya mengajr di sejumlah universitas, ada yang pagi, siang, sore, bahkan malam. Saya menjadi tukang foto saat Sabtu dan Minggu. Di sela-sela waktu antara Senin dan Minggu, saya jungkir balik merancang beraneka event untuk perusahaan hingga untuk pesta perkawinan. Amat menggairahkan.

Tak ada yang lebih menggairah karena semuanya adalah nyawa buat saya sekarang. Mengalir. Kelak, mungkin profesi yang menjadi hanya dua atau justru malah empat atau lebih, biarkan saja. Selama saya punya kemampuan dan passion. Yang pasti, saya akan menghindari hal-hal yang bukan bidang saya.

Satu hal yang saya sadari, bukan saya yang memilih pekerjaan-pekerjaan itu, tapi pekerjaan-pekerjaan itulah yang memilih saya.

Well, saya sudah memulai. Bagaimana dengan Anda?


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.