Blog EntryOne Person, MultiprofessionFeb 18, '08 8:04 PM
for everyone

Butuh sebuah keberanian dan kedekadan ketika saya memutuskan berhenti dari sebuah pekerjaan yang telah memberikan karir dan beragam fasilitas. Saat itu saya sedang tertarik meditasi. Begitu merasuknya ajaran dan laku meditasi membuat saya kehilangan obsesi akan duniawi. Alam bawah sadar saya bertualang ke rongga-rongga misteri alam semesta.

Saya lalu belajar mendengarkan hati. Bekerja untuk kedamaian, untuk hati. Kaya miskin bukan patokan. Saya ingin mencapai puncak spiritual. Indah sekali proses menuju sana. Namun rupanya, dalam pergulatan menuju 'puncak' yang saya harapkan sesuatu terjadi. Saya mengalami pergolakan iman yang mahadasyat hingga akhirnya saya memilih kembali ke ajaran yang diwariskan oleh keluarga dan kekampung.

Namun saya merasa lebih siap dengan segala kondisi sekarang.

Kembali ke soal karir dan pekerjaan, sepertinya saya terus terlanjur 'mendengarkan' hati bicara. Sampai pada suatu titik, saya memilih untuk menjadi pengajar saja. Saya sadari saya akan kehilangan banyak pemasukan keuangan. Namun saya pasrah. Saya hapus kekuatiran. Saya yakin, Tuhan akan terus bersama saya.

Muda, banyak energi, kreatif, banyak ide. Itulah saya. Saya memulai hidup baru dengan 'terserah', biar Tuhan yang mengarahkan. Makanya saya tak mau putus meminta petunjuk-Nya. Maka ketika kepasrahan begitu lekat, Tuhan telah memilihkan hal-hal baik untuk saya. Satu per satu pekerjaan di luar pekerjaan utama saya mengajar, datang silih berganti. Alhamdulillah.

Kini saya menjalani minimal tiga profesi sekaligus: dosen, photographer, dan event architect. Saya mengajr di sejumlah universitas, ada yang pagi, siang, sore, bahkan malam. Saya menjadi tukang foto saat Sabtu dan Minggu. Di sela-sela waktu antara Senin dan Minggu, saya jungkir balik merancang beraneka event untuk perusahaan hingga untuk pesta perkawinan. Amat menggairahkan.

Tak ada yang lebih menggairah karena semuanya adalah nyawa buat saya sekarang. Mengalir. Kelak, mungkin profesi yang menjadi hanya dua atau justru malah empat atau lebih, biarkan saja. Selama saya punya kemampuan dan passion. Yang pasti, saya akan menghindari hal-hal yang bukan bidang saya.

Satu hal yang saya sadari, bukan saya yang memilih pekerjaan-pekerjaan itu, tapi pekerjaan-pekerjaan itulah yang memilih saya.

Well, saya sudah memulai. Bagaimana dengan Anda?


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
peleth wrote on Feb 18
menarik dan inspiratif kang usep,

terima kasih untuk sharingnya...,
usep wrote on Feb 18
berani? :)
yenceu wrote on Feb 18
profesi baru mu bro' :D menjadi ayah.. amiinn...

semoga sukses ;))))))))
tianarief wrote on Feb 18
saya malah tak memilih pekerjaan. mana saja yang menghasilkan duit, asal halal. :)
peleth wrote on Feb 18
usep said
berani? :)
mencoba untuk lebih berguna bagi orng lain aj dl deh om, itu aja masih susah sekali...,
masopang wrote on Feb 18
yenceu said
menjadi ayah.. amiinn...

semoga sukses ;))))))))
selamat yaa kang usep......................... :-)

trims untuk sharing dan suntikan semangatnya pagi ini ! saluutt
owenk wrote on Feb 19
Hmm...Usep orang yang pertama sms in gw dgn kata "Berani" saat dia tau gw keluar dari perusahaan gw bekerja. Ketika gw berani memutuskan untuk keluar dari kantor gw dan menjalankan bisnis sendiri yg tentunya sesuai dgn apa yg gw suka dan bisa.
dan ternyata setelah gw memutuskan keluar..pekerjaanlah yg mencari gw...bener sep..bener...setuju.
yadicole wrote on Feb 19
salutttttt.....
Good Luck!
usep wrote on Feb 29
thank, pak. :)
usep wrote on Feb 29
seneng kalo begitu, ya. good luck. :)
usep wrote on Feb 29
begitu, weng. kita kan ga pernah tau apa yg akan terjadi setelah hari ini. penuh resiko emang. tapi mesti dicoba juga, kan. :)
usep wrote on Feb 29
hehe. amien. :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.