Blog EntryEnough is Enough: untuk Sahabat yang Menipu Mar 9, '08 4:21 PM
for everyone

Seorang sahabat suatu ketika tergopoh-gopoh minta bantuan. Dia sedang merintis karir menjadi freelancer. Bantuan yang dia minta adalah sebuah proposal produksi film. Karena saya punya kemampuan di sana, saya siapkan. Katanya, dia akan mengajak saya dalam projek itu. Bagi hasil. Alhamdulillah. Saya bersukur ada orang yang mempercayai saya dan saya bersedia dengan segala pamrih tentu. Karena kami bicara bisnis, yang saya harapkan tentunya adalah pemasukan materi dan peluang-pelung non materi.

Belum jelas nasib proposal pertama, datang lagi peluang baru dari sahabat saya ini. Saya diminta membuat proposal untuk sebuah event. Lagi-lagi karena saya bisa dan biasa membuat hal demikian, tapi kesulitan saya bisa melakukannya.

Sekian minggu berlalu, kedua proposal saya tak jelas kabarnya. Pernah saya tanya, kata sahabat saya, masih dalam proses presentasi. Saya sabar dan maklum. Berurusan dengan klien memang terkadang sangat sulit dan bertele-tele.

Suatu hari saya mendapat kabar dari seorang sahabat lain, kedua projek yang fondasi konsepnya saya yang buat itu sudah selesai terselenggara dengan mengajak pihak lain. Saya melongo.

Luar biasa sedih. Seorang sahabat yang selama ini saya hargai dan hormati, berani melakukan kecurangan. Sungguh saya pilu. Bagaimana saya bisa memberinya kepercayaan lagi? Saya tak iri dengan rezeki yang dia dapatkan. Tapi mestinya ada cara elegan yang bisa dia lakukan untuk mengabari saya jika ternyata dia tak jadi bekerja sama dengan saya. Tapi kalau dilihat lebih fair lagi, begitu di awal dia komit untuk menjalin hubungan kerja sama dengan saya, dia mesti terus memegang komitmen itu.

Padahal, di luar projek-projek itu, hubungan kami sangat baik. Komunikasi juga sangat lancar. Jadi sepertinya tak ada masalah yang terlihat. Kecuali dia punya alasan lain. Ah, ada-ada saja.

Tapi insyaallah saya sudah memaafkan. Hanya, tak mudah untuk memberikan dia peluang lain. Enough is enough.


14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
aaqq wrote on Mar 9
rezeki mah gak kemana kang.. setuju!
juwitapalgunadi wrote on Mar 9
Suatu hari nanti, temenmu itu akan dapat balasannya
ambarbriastuti wrote on Mar 9
forgiven but not forget
usep wrote on Mar 9
ga mau sesumbar. aku pengen dia menyadari kekeliruannya. biar orang lain tak dirugikan juga. ga mau juga sesuatu yg tidak baik menimpa dia. semoga dia selalu dilindungi oleh tuhan. :)
usep wrote on Mar 9
iya, mungkin bukan rezeki aku juga. thank, mas ki. :)
usep wrote on Mar 9
hehe. notice aja. :)
masopang wrote on Mar 9
aaqq said
rezeki mah gak kemana kang.
insyaallah abah.....ada rezeki buat abah, istri & basil !

sahabat itu mungkin dapet duit, belum tentu dapet rezeki, apalagi berkah !
punya MP juga kan ? insyaallah dia baca deh... :-)
c10dean wrote on Mar 10
usep said
aku pengen dia menyadari kekeliruannya.
cukup beritahu saja yang elo gak suka...
rejeki bisa dicari dimana saja...artinya itu sebuah pelajaran pengalaman berharga utnuk berhati-hati...
c10dean wrote on Mar 10
usep said
biar orang lain tak dirugikan juga. ga mau juga sesuatu yg tidak baik menimpa dia.
bukan tugas kamu untuk dia tidak merugikan orang lain ato sesuatu yang akan menimpa dia...serahkan pada diatas saja...kecuali kalo ada seorang teman/kolega yang menanyakan referensi si penipu ini adalah kewajiban elo untuk mengatakan yang sesungguhnya, bukan ngejelekan yaaa....namanya juga orang nanyakan referensi...
iwan95 wrote on Mar 10
sabar boss, mungkin coba ajak dia bicara langsung dari hati ke hati, siapa tau bisa terbuka nuraninya...kehilangan kepercayaan kepada sahabat itu memang sangat menyakitkan, belum lagi jika menghitung biaya psikologis & biaya sosial jika kemudian berdasarkan pengalaman ini kita jadi sering su-udzon ke orang dengan dalih extra hati-hati....
usep wrote on Mar 10
iya. jadi beban hati bgt. tapi alhamdulillah aku bisa mengatasinya tanpa harus dendam. cukup berdoa semoga hal demikian tidak terulang lagi. :)
usep wrote on Mar 10
terima kasih, oom. mencerahkan sekali. :)
monditato wrote on Mar 11
Sep, bilang aja terus terang. Teman nih? at least he/she knows that you know that he/she did that to you. Biar dia sendiri yang malu. ga usah marah panjang lebar. Just to let that person know aja tujuannya, bahwa eloe ga bego n ga kuper. jadi jangan pernah ngerjain eloe lagi.
usep wrote on Mar 11
masih berduka. :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.