Adakalanya sayap yang terentang lelah untuk diterbangkan dan kaki perlu digantungkan untuk sesaat. Rumah selalu menjadi tujuan yang paling populer.
Mendengar lagu ini, membuat saya terhanyut. Apalagi ketika jauh dari rumah. Membuat saya harus selalu terjaga, menjaga diri, menjaga hati. | Home | | Its Time | | Michael Buble | |
 | Renungan | Jun 25, '07 4:18 AM for everyone |
Saya bolak-balik mendengarkan lagu berjudul 'Renungan' yang pernah dipopolerkan oleh almarhum Didi Mirhad tahunan lalu. Ah, waktu dulu saya mendengar lagu ini, sepertinya sama saja dengan lagu-lagu lain. Sekedar enak didengar. Namun kali ini saya menangis. Tak sampai segugukan, sih. Tapi nikmat sekali rasanya bisa menitikkan air mata. Meresapi betapa lagu ini penuh dengan nilai spiritual. Alhamdulillah, hati saya masih sensitif. Saya membayangkan betapa pencipta dan penulis lagu ini sedang pada level spiritual yang tinggi. Semoga mereka diberi pahala besar, meninggalkan warisan yang sedemikian agung. Sambil mata terpejam, ikut berdendang, duh, serasa diri saya tiba-tiba ciut. Tak ada artinya dibanding kekuasaan Tuhan yang besar. Betapa saya bersyukur pernah disakitkan, dihampirmatikan, kemudian dihidupkan. Menurut Tuhan kala itu, hidup adalah lebih baik bagi saya. Maka saya ingin bertobat, berjanji untuk tidak lagi mengulang kesesatan-kesesatan di masa lalu. Saya percaya, saya tak sendiri menjalaninya. Bersama Allah, saya yakin saya bisa.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu; Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada; [Sapardi Djoko Damono] 
 Aku sedih duduk sendiri. Papa pergi, Mama pergi... Oh, itu dia. Mereka datang. Aku senang. Hatiku riang.
Suddenly, yes, suddenly I miss Bapak. Apa kabar dia di surga? 
Saya pernah sangat underestimate dengan lagu-lagu jaman dulu, lagu-lagu yang beredar bahkan sebelum saya lahir. Suatu sore dalam perjalanan pulang ke kantor setelah meeting dengan klien, saya mendengarkan obrolan Ida Arimurti dan Krisna Purwana dari Female Radio. Tahu-tahu, lagu Just for You diputar. Saya tertegun, betapa lagu ini nyaman didengar dan sangat sesuai dengan mood saya saat itu. Lagu lama dan saya merasa tak pernah mendengarnya sama sekali! Menyedihkan. Saya segera menelpon teman saya yang kala itu menjadi Music Director di radio yang tahun itu masih berkantor di Bintaro Jaya. Hallo, Helena! Apa kabar? Saya catet. Tiba di kantor, saya browse lyricnya. Besoknya, saya berburu kaset, CD atau apapun atas nama penyanyi itu. Sayang, setelah keliling beberapa mall, lagu tsb tak bisa ditemukan. Terakhir saya menyambangi Duta Suara di Agus Salim. Ada, tapi berupa VCD karaoke. Tak apa, saya beli juga. Baru dua tahun kemudian, lagu-lagu lawas Cocciante membanjiri toko kaset.  | Riccardo Cocciante - Margherita | | | | | | | Riccardo Cocciante - Just for you | | | | | |
Tina, apa kabar? Saya dan Tina pernah satu kantor, satu bagian pula. Sama-sama di bagian penjualan. Jadi setiap hari kami punya jadual keluar kantor bertemu klien. Kami jadi sangat dekat. Tina sudah menikah. Saat itu perkawinannya kurang bahagia. Suaminya sangat galak dan ringan tangan. Tak jarang, Tina ke kantor dengan muka legam, mata bintit, badan biru-biru. Tragis sekali. Tina sering menangis di bahu saya. Suatu ketika Michael Learns to Rock merelease album dimana lagu 'I'm Gonna Be Around adalah salah satu andalannya. Kami sering mendengarkan lagu ini bersama, sambil menyusuri jalanan Jakarta yang macet. Kadang kami tak saling berkata-kata. Hanya diam meresapi kata demi kata dari lagu ini. Hingga berbulan-bulan kemudian, kaset ini selalu ada dalam mobil. Jika Tina sedang sedih, saya putarkan lagu ini. Lalu Tina diminta keluar oleh suaminya. Padahal suami Tina sedang tidak bekerja. Suaminya cemburu karena kedekatan saya dengan Tina.  | MLTR I'M Gonna Be Around | | BEST COLLECTIONS | | M L T R | |
Ketika saya masih sangat kecil, layar tancap selalu menjadi pilihan hiburan yang dipilih para tetangga yang sedang mengadakan pesta perkawinan atau bahkan sunatan anaknya.
Saya diperbolehkan nonton oleh orang tua asal tidak pulang terlalu malam. Hmm, sebetulnya orang tua tak pernah memberi batasan. Saya saja yang suka membatasi diri. Bapak tak pernah tertarik untuk menonton. Ibu kadang sekali-sekali jika yang punya pesta benar-benar tetangga dekat dan layar bisa dinikmati dari teras rumah.
Film yang dibintangi Edy Silitonga ini, saya lupa judulnya. Mungkin 'Mama' atau 'Kembalilah Mama'. Film ini sangat meninggalkan kesan buat saya. Lagu yang menjadi sountrack film ini, Mama, tak pernah diputar di radio lagi saat itu karena memang sudah lewat masanya. Tapi Oom Edy masih terkenal karena lagunya setelah itu masih suka beredar, antara lain 'Bingung'.
Edy asal Sumatra Utara yang memiliki bakat menyanyi, merantau ke Jakarta. Ibunya, Wolly Sutinah, berdoa siang malam untuk kesuksesan anaknya. Singkat cerita, pria ini sukses sesukses-suksesnya, terkenal, kaya raya, dan sangat sibuk karena tawaran menyanyi dari mana-mana.
Edy melupakan Ibunya. Kepopuleran menjadi dia takabur. Suatu ketika, ia bertemu seseorang yang mengajak bekerja sama dalam sebuah bisnis. Sayang, Edy ditipu. Lalu jatuh miskin. Saat miskin dan dicemooh, dia baru inget Ibunya. Saat sedih itu, dia menyanyikan lagu Mama ini. Dulu ketika saya menonton film ini, dalam hati saya berjanji. Jika saya menjadi penyanyi terkenal, sukses, dan kaya raya, tak akan melupakan Ibu. Haha.
Kasih Ibu sepanjang masa. Maka, Edy pulang kampung dalam keadaan gembel sama seperti dia pertama kali pergi meninggalkan kampung halamannya. Ibu tetaplah Ibu, dia akan menerima anaknya dalam keadaan apapun.
[Andrey, thank untuk lagunya, ya]. | Mama --. | | http://acorbusie.multiply.com | | | |
Saya belum pernah ke Myanmar untuk melihat Mandalay itu seperti apa. Kelak saya ingin sekali mengunjunginya. Lagu ini bolak-balik saya putar saat saya mengunjungi Thailand beberapa tahu lalu, beberapa hari setelah lagu ini di-release.
Everything I touched was gold and everything I left was broken on the way to Mandalay...
Saya berimajinasi bahwa Bangkok Utara yang dikerumuni puing candi-candi tua itu adalah Mandalay...
Trip keluar kota itu selain diikuti, saya, dia, dan kekasihnya, diikuti pula oleh belasan orang lain. Saya memang sudah mengenalnya lama. Tapi hanya sebagai secret admirer. Selama trip, tak ada yang begitu istimewa terjadi. Kecuali, tentu setiap berdekatan dengan dia, saya merasakan kebahagiaan itu. Tak pernah berpikir akan sangat dekat, apalagi dia sudah memiliki seorang kekasih.
Hanya satu atau dua hari pulang dari trip, dia mengirim pesan pendek: kangen. Saya mengira dia bercanda, namun tidak. Saya yang memang sudah memendam rasa suka, seakan meledak karena rasa suka saya bersambut. Lalu sejak saat itu hingga berbulan-bulan kemudian, kami jadi intim.
Lagu ini sering kami nyanyikan bersama karena keputusasaan kami, menjalin hubungan tanpa arah. Dia masih dengan kekasihnya, saya dengan ketidakyakinan untuk berkomitmen.
| |