Suhud's posts with tag: me and the universe

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag me and the universe
Blog EntryNikmatnya Hidup Tanpa MembenciJun 7, '08 6:04 PM
for everyone
Saya ingin mendeklarasikan diri bahwa saya tidak mempunyai musuh. Saya kan bukan politikus atau preman. Seringnya, sekedar sebal-sebalan sesaat. Ingin membenci, tapi jadinya malah sedih. Saya kerap sedih karena orang-orang yang saya percaya malah berkhianat. Dampaknya saya malas sekali berhubungan dengan mereka lagi.

Insyaallah, sebisa mungkin saya memaafkan. Memaafkan adalah hal yang paling mudah dilakukan. Tapi untuk melupakan, rasanya perlu waktu dan keinginan dari yang bersangkutan untuk memperbaiki. Namun herannya, orang-orang tersebut berlaku seolah tidak ada apa-apa. Oh, kalau begitu, memang sudah sifat mereka. Tinggal saya sendiri yang perlu bekerja keras memaafkan dan melupakan. Ingat anjuran para ustadz, hati harus dijaga agar jauh dari penyakit hati. Biar selamat dunia dan akhirat.

Bila dipikir-pikir, sangatlah sulit menjauhkan diri dari 'gesekan' dengan orang lain. Di tempat kerja, dalam organisasi, bertetangga, bahkan dalam pertemanan, kita sering kali terlibat dalam berbagai masalah yang berpotensi retaknya hubungan. Kadang dalam sekejap bisa teratasi, kadang rumitnya bukan main.

Sejujurnya, saya manusia yang enggan berkonflik. Ketika dalam organisasi terjadi konflik hebat, saya mungkin lebih senang mengundurkan diri dari pada pura-pura happy padahal hati mendongkol. Setelah lama terjadi konflik yang tidak sehat di suatu kantor di mana saya bekerja, saya memilih mundur. Dan ternyata, hingga bertahun-tahun saya keluar, konflik-konflik sama terus terjadi. Saya berkesimpulan karena orang-orang yang biasa berkonflik masih bercokol di sana dengan mempertahankan pola pikir yang klasik.

Ketika saya berbisnis dengan seorang sahabat yang ternyata dia berperilaku tidak adil, saya memilih keluar dari hubungan bisnis itu. Saya tidak tega membiarkan hati saya nelangsa. Tak mau mengasihani diri dengan terus-terusan dianiaya.

Mungkin saya bukan orang yang tegar. Namun biarlah. Saya hanya tak ingin membenci.



Blog EntryKisah Segelas KopiJun 4, '08 5:00 PM
for everyone
Saya bukan peminum kopi. Tapi suatu malam saya mimpi. Dalam mimpi itu, saya minum secangkir kopi yang rasanya nikmaaat sekali. Keesokan harinya, sepulang berenang saya mampir ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa sachet kopi. Karena setelah itu banyak urusan, niat menikmati kopi belum terlaksana.

Sore itu saya harus berkemas menuju sebuah meeting di kantor seorang sahabat. Saya minta disuguhi kopi! Hmm. Saya coba merasakana sensasi segelas kopi. Nikmat betul memang.

Dan malamnya, hingga hampir subuh saya tak bisa tidur.

Blog EntryEnough is Enough: untuk Sahabat yang Menipu Mar 9, '08 4:21 PM
for everyone

Seorang sahabat suatu ketika tergopoh-gopoh minta bantuan. Dia sedang merintis karir menjadi freelancer. Bantuan yang dia minta adalah sebuah proposal produksi film. Karena saya punya kemampuan di sana, saya siapkan. Katanya, dia akan mengajak saya dalam projek itu. Bagi hasil. Alhamdulillah. Saya bersukur ada orang yang mempercayai saya dan saya bersedia dengan segala pamrih tentu. Karena kami bicara bisnis, yang saya harapkan tentunya adalah pemasukan materi dan peluang-pelung non materi.

Belum jelas nasib proposal pertama, datang lagi peluang baru dari sahabat saya ini. Saya diminta membuat proposal untuk sebuah event. Lagi-lagi karena saya bisa dan biasa membuat hal demikian, tapi kesulitan saya bisa melakukannya.

Sekian minggu berlalu, kedua proposal saya tak jelas kabarnya. Pernah saya tanya, kata sahabat saya, masih dalam proses presentasi. Saya sabar dan maklum. Berurusan dengan klien memang terkadang sangat sulit dan bertele-tele.

Suatu hari saya mendapat kabar dari seorang sahabat lain, kedua projek yang fondasi konsepnya saya yang buat itu sudah selesai terselenggara dengan mengajak pihak lain. Saya melongo.

Luar biasa sedih. Seorang sahabat yang selama ini saya hargai dan hormati, berani melakukan kecurangan. Sungguh saya pilu. Bagaimana saya bisa memberinya kepercayaan lagi? Saya tak iri dengan rezeki yang dia dapatkan. Tapi mestinya ada cara elegan yang bisa dia lakukan untuk mengabari saya jika ternyata dia tak jadi bekerja sama dengan saya. Tapi kalau dilihat lebih fair lagi, begitu di awal dia komit untuk menjalin hubungan kerja sama dengan saya, dia mesti terus memegang komitmen itu.

Padahal, di luar projek-projek itu, hubungan kami sangat baik. Komunikasi juga sangat lancar. Jadi sepertinya tak ada masalah yang terlihat. Kecuali dia punya alasan lain. Ah, ada-ada saja.

Tapi insyaallah saya sudah memaafkan. Hanya, tak mudah untuk memberikan dia peluang lain. Enough is enough.


Blog EntryOne Person, MultiprofessionFeb 18, '08 8:04 PM
for everyone

Butuh sebuah keberanian dan kedekadan ketika saya memutuskan berhenti dari sebuah pekerjaan yang telah memberikan karir dan beragam fasilitas. Saat itu saya sedang tertarik meditasi. Begitu merasuknya ajaran dan laku meditasi membuat saya kehilangan obsesi akan duniawi. Alam bawah sadar saya bertualang ke rongga-rongga misteri alam semesta.

Saya lalu belajar mendengarkan hati. Bekerja untuk kedamaian, untuk hati. Kaya miskin bukan patokan. Saya ingin mencapai puncak spiritual. Indah sekali proses menuju sana. Namun rupanya, dalam pergulatan menuju 'puncak' yang saya harapkan sesuatu terjadi. Saya mengalami pergolakan iman yang mahadasyat hingga akhirnya saya memilih kembali ke ajaran yang diwariskan oleh keluarga dan kekampung.

Namun saya merasa lebih siap dengan segala kondisi sekarang.

Kembali ke soal karir dan pekerjaan, sepertinya saya terus terlanjur 'mendengarkan' hati bicara. Sampai pada suatu titik, saya memilih untuk menjadi pengajar saja. Saya sadari saya akan kehilangan banyak pemasukan keuangan. Namun saya pasrah. Saya hapus kekuatiran. Saya yakin, Tuhan akan terus bersama saya.

Muda, banyak energi, kreatif, banyak ide. Itulah saya. Saya memulai hidup baru dengan 'terserah', biar Tuhan yang mengarahkan. Makanya saya tak mau putus meminta petunjuk-Nya. Maka ketika kepasrahan begitu lekat, Tuhan telah memilihkan hal-hal baik untuk saya. Satu per satu pekerjaan di luar pekerjaan utama saya mengajar, datang silih berganti. Alhamdulillah.

Kini saya menjalani minimal tiga profesi sekaligus: dosen, photographer, dan event architect. Saya mengajr di sejumlah universitas, ada yang pagi, siang, sore, bahkan malam. Saya menjadi tukang foto saat Sabtu dan Minggu. Di sela-sela waktu antara Senin dan Minggu, saya jungkir balik merancang beraneka event untuk perusahaan hingga untuk pesta perkawinan. Amat menggairahkan.

Tak ada yang lebih menggairah karena semuanya adalah nyawa buat saya sekarang. Mengalir. Kelak, mungkin profesi yang menjadi hanya dua atau justru malah empat atau lebih, biarkan saja. Selama saya punya kemampuan dan passion. Yang pasti, saya akan menghindari hal-hal yang bukan bidang saya.

Satu hal yang saya sadari, bukan saya yang memilih pekerjaan-pekerjaan itu, tapi pekerjaan-pekerjaan itulah yang memilih saya.

Well, saya sudah memulai. Bagaimana dengan Anda?


Blog EntrySuami Siaga, Siap Grak!Feb 15, '08 7:36 PM
for everyone

 

Waktu beberapa tahun lalu di layar tv ada iklan layanan masyarakat tentang kampanye 'Suami Siaga' dengan model penyanyi dangdut Iis Dahlia sering tayang, sayang optimis sekali akan melakukannya jika kelak saya berada di posisi itu. Lalu sekian tahun kemudian saya benar-benar menempati posisi tersebut dan lupa. Sampai suatu malam seorang sahabat mengingatkan: Lu jadi suami siaga, dong?

Suami siaga? Iya, saya benar-benar lupa tentang program itu. Tiap bulan saya bertemu dokter kandungan mengantar istri, dia tak pernah cerita. Poster atau bentuk komunikasi apa pun tentang kegiatan tersebut sudah tak ada lagi. Padahal penting sekali untuk terus mengingatkan para suami untuk memegang peran sebagai suami yang selalu siaga selama kehamilan istri.

Namun, meskipun saya lupa tentang kampanye program Suami Siaga, bukan berarti saya tak siaga. Saya awas nyaris 24 jam sehari semata mengawasi keselamatan dan kondisi istri dan jabang bayi yang dikandungnya. Terutama memberikan kenyamanan dan perhatian terhadap mereka.

Saya betul-betul awam. Masih harus banyak mendengar nasihat siapapun yang telah melahirkan, yang telah berpengalaman dengan orang-orang yang telah melahirkan, dan terus mencari informasi tentang segala hal yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran. Sambil saya sendiri menyaipkan lahir bathin untuk menyambut kehadiran calon anak pertama saya.


Blog EntryWaktu Saya Tak Lagi BanyakFeb 12, '08 5:46 AM
for everyone

Semoga apa yang akan aku lakukan hari ini dan segala sesuatu yang telah aku siapkan untuk hari ini, Engkau ridhoi dan akan bermanfaat. Hindarkan aku dari kesia-siaan, ya, Allah. Begitu kira-kira sepotong doa yang saya haturkan suatu pagi.

Iya, saya harus ke luar kota untuk melakukan presentasi, menjual ide kegiatan, yang adalah salah satu pekerjaan saya terakhir ini. Karena hanya ke Banten, maka tak perlu menginap. Resikonya saya mesti berangkat sangat pagi agar sejumlah meeting yang telah dirancang di provinsi baru itu bisa semua terjadi.

Alhamdulillah, pertemuan-pertemuan itu berjalan mulus meskipun hasilnya entah bagaimana. Tak perlu saya risaukan sekarang, bukan? Terpenting adalah saya sudah berikhtiar. Urusan berhasil atau tidak atau hasilnya bagaimana, biarkan semesta yang bekerja.

Setiap hari kita melakukan sesuatu, banyak malah. Ada yang rutin, ada yang sekali-sekali saja. Ada yang berupa kewajiban, ada yang untuk senang-senang. Ada yang dengan senang hati kita melakukannya, ada yang terpaksa.

Dari setiap hal yang kita lakukan, ada yang kita harapkan selalu harus berhasil. Kali lain mungkin kita bersikap jika berhasil syukur tidak berhasil juga tak masalah. Ada yang mungkin justeru kita harapkan apa yang kita lakukan jangan sampai menghasilkan. Ekstrim memang.

Ketika menyadari usia makin hari makin menua, saya sadar. Waktu yang saya miliki tak banyak lagi. Waktu yang tersisa sedikit ini, ingin sekali hanya hal-hal berguna saja yang saya lakukan. Berguna bagi saya, bagi keluarga, bagi orang lain.

Mungkin sudah bukan saatnya lagi saya membiarkan waktu menyublim tanpa guna. Saya harus tetap awas. Apapun yang saya lakukan mesti punya alasan. Tak harus selalu menghasilkan secara instan dengan hasil memuaskan memang. Setidaknya, secara sadar saya perlu mengindari perbuatan-perbuatan yang sia-sia.

Kesadaran saja kadang tidak cukup. Untuk itulah saya selalu mengandalkan kekuatan semesta agar saya bisa tertib: sehari saya bisa menonton tiga hingga empat judul DVD. Bermanfaatkah? Harus bermanfaat. Bisa dua hingga tiga jam saya keliling sebuah pusat perbelanjaan. Bermanfaatkah? Harus bermanfaat. Begitulah, bahkan dari hal yang terkesan membuang waktu saja harus bisa memperkaya bathin dan intelektual saya.

 

 


Melajang itu asyik. Siapa pun akan setuju, melajang itu sejuta indahnya. Tentu saja bagi yang tahu bagamana cara mengisi dan menikmatinya. Lalu sebuah pertanyaan buat saya sendiri sebetulnya. Kesadaran itu menyeruak tiba-tiba. Yes, saya perlu segera berkeluarga. Apapun resikonya.

Andai keinginan menikah waktu itu tak dibarengi niat dan tak diikuti oleh tindakan, mungkin saya ini saya masih melajang. Bebas terbang kemana saja saya mau, lepas merdeka sesuka hati. Tak akan ada sesuatu pun yang dapat menghalangi. Mau apa, mau kemana.

Ketika saya begitu percaya akan kekuatan doa, maka hanya itu jalan yang saya ambil: berdoa. Saya ingin menikah. Saya tak mau setiap bertambahnya umur saya, saya masih terus saja sendiri. Ingin rasanya ketika bangun tidur ada seseirang yang saya cintai rebah di samping saya. Ingin rasanya badan kekar saya digelayuti makhluk-makhluk mungil yang adalah darah daging saya.

Waktu berjalan. Satu-satu kejadian yang saya sertakan dalam doa terbentuk: happy birthday, Usep Suhud!


Karena menolak sebuah promosi dari atasan, sahabat saya dihukum dengan harus menjalani mutasi ke sebuah kota nun jauh di mato. Setiap saat sahabat saya ini bilang tak betah dan ingin kembali ke Jakarta meskipun harus keluar dari pekerjaannya. Namun, setahun lewat dan sahabat saya masih tertahan di 'pengasingan'.

Akhirnya pada suatu pagi, saya mengirimkan pesan: Sesuatu sedang bekerja tanpa kamu tahu. Sebuah konspirasi mahabesar yang dikendalikan oleh Tuhan sedang tercipta menunggu waktu yang tepat untuk merubah hidup kamu selamanya. Bersabarlah. Bermunajatlah.

Perasaan kita sering kacau ketika sesuatu yang tak kita harapkan terjadi. Hal yang boleh saya uangkapkan adalah, berpikirlah multidimensi. Tak sekedar perlu menerima kenyataan, namun perlu juga bertanya: Tuhan, tunjukkan jawaban. Apa rencana-Mu atas hidupku?

Lalu berbaik sangkalah.

 


Blog EntryPersahabatan Kita, Tamat Sampai di SiniJan 28, '08 8:39 AM
for everyone

Suatu hari, seorang sahabat merasa perlu untuk bertemu saya. Dari sejumlah cerita yang ia gelontorkan, salah satunya adalah 'perseturuan' dia dengan salah seorang sahabat dekatnya. Saya heran, sangat heran. Ia dan sahabatnya itu sungguh lengket sangkat lengket. Hampir tiap hari mereka menghabiskan waktu bersama dari mulai usai jam kantor hingga tutup mall. Belum lagi ditambah akhir pekan.

Kasus memutuskan tali silaturahmi antar-sahabat sering saya dengar dan sering terjadi di sekeliling saya. Menyedihkan dan memprihatinkan.

Sering saya heran, bagaimana selama orang-orang itu bersahabat, apa kurang mereka saling mengenal pribadi masing-masing? Bagaimana satu sama lain bisa saling tersinggung, saling terhina, saling terpojokkan, saling dirugikan?

 


Blog EntryWhere Have I Been?Jan 28, '08 8:28 AM
for everyone

Saya maklum sekarang. Mengapa orang-orang hebat dan kreatif seperti Dian Pramana Putra, Deddy Dores, Rhoma Irama atau siapa pun yang dulu pernah sangat rajin berkarya, tiba-tiba hilang dari peredaran. Tidak produktif lagi.

Lalu saya melihat diri sendiri. Meskipun tak sehebat orang-orang yang sebut di atas, tapi ternyata begitu banyak alasan mengapa saya mandeg berkarya: entah menulis, membuat foto, melukis. Mood hilang, imajinasi lenyap. Alasannya bisa sejuta.

Padahal kangen sekali menyusun huruf, memutar diafragma, mengayunkan kuas...


Blog EntryOrang-orang di Sekitarmu adalah RezekimuJan 6, '08 4:36 AM
for everyone

Saya sering geram karena atasan berlaku tidak adil. Ketika rekan kerja lain berbuat salah hanya mendapat teguran, lima menit kemudian, seolah tak terjadi apa-apa. Namun ketika giliran saya yang membuat kekeliruan, bisa dua minggu saya kena dampak kejudesan dia. Padahal, rekan-rekan saya sangat kerap melakukannya. Sementara saya, mungkin tak sampai dua kali dalam satu semester berbuat salah. Akhirnya, saya ikut kesal terhadap rekan-rekan. Sudah  begitu bodoh, lalai, eh, masih juga suka menyikut-nyikut dengan perilaku mereka yang obsesif dan penuh siasat. Pokoknya, menyebalkan.

Saya punya seorang kerabat yang minta ampun konyolnya. Usianya lebih muda dari saya, pengangguran, pernah sangat dimanja oleh keluarganya. Keluarga besar sudah mencap dia sebagai pembuat onar, sering bohong, dan segala gelar negatif lain. Hubungan saya dengan dia sangat tidak dekat. Saya juga tak pernah punya pengalaman dengan segala kenakalan dan kebadungan dia. Suatu ketika dia datang meminjam uang untuk ongkos karena ada wawancara kerja katanya. Saya heran mengapa dia datang kepada saya, padahal seperti yang sudah saya sebut, hubungan kami sangat tidak dekat. Ibu dan saudara-saudara saya mengingatkan. Saya tetap berniat menolong.Uang saya kasih begitu saja. Saya pikir, kalau ia benar-benar mendapatkan pekerjaan yang ditawarkan, semoga ia akan berubah. Lagian, jumlah yang dia butuhkan tak banyak. Sebelum anak itu pamit, sedikit saya memberi wejangan. Saya sangat trenyuh ketika dia segugukan menangis, mencium tangan, dan nyaris mencium kaki saya.

Tak lama anak itu pergi, kabar tentang apa yang terjadi di ruang tamu rumah orang tua saya itu tersebar. Tak lama juga, seorang kerabat lain yang mendengar cerita itu datang menemui saya. Dia bilang, anak yang barusan saya kasih uang, tidak pergi kemana-mana. Ia sedang bergerombol dengan teman-temannya main judi dua ratusan meter jaraknya dari rumah saya. Ngek ngok.

Isteri saya mengeluh tentang seorang rekan kerjanya yang suka ingin menang sendiri. Ibu saya mengeluh tentang salah seorang menantunya yang bersikap tak semestinya. Seorang sahabat mengeluh karena ibunya selalu memperlakukan dia seolah dia saingannya. Sahabat saya yang lain mengeluh karena teman dekat yang selama ini dia sebut kekasih ternyata tak pernah bersikap layaknya seperti kekasih. Adik saya mengeluh karena tetangga sering bikin kegaduhan.

Kita mengeluh karena orang-orang terdekat kita berlaku tak sesuai dengan harapan kita, mau kita. Kita sebal, marah, hingga benci terhadap orang-orang di sekitar kita, di sekeliling kita karena mereka punya sifat-sifat yang membuat kita tak nyaman, dirugikan, terancam, merasa dieret, ditipu, dibohongi, dikhianati...

Kita ingin jauh dari mereka.

Kita bisa saja menyingkir dari teman main. Kita bisa saja memutuskan hubungan pacar. Namun jika orang yang menyebalkan itu ternyata atasan, saudara kandung, orang tua, pasangan hidup? Apakah kita bisa mengenyahkan mereka dari hidup kita?

Ketika Anda menjawab tidak, artinya memang tidak. Artinya, Anda harus merubah cara pikir dan merasa Anda. Bahwa sesungguhnya, orang-orang yang menyebalkan itu memang tak perlu kita jauhi apalagi musuhi. Mereka ada karena kita ada. Kita tampak baik karena sebagian dari orang-orang di lingkungan kita berbuat tak baik. Saatnya kita bersyukur atas kelebihan yang kita punya.

Jika uang bulanan yang kita dapat patut kita syukuri sebagai rezeki, maka orang-orang yang hidup di sekeliling kita pun adalah bagian dari rezeki yang patut kita syukuri. Rezeki tak melulu berhubungan dengan materi. Mereka adalah paket dari segala kesenangan dan kenyamanan hidup kita. Terlebih, mereka adalah cermin dari sifat-sifat kita selama ini. Maka berbuat baiklah, semoga hanya orang-orang berhati baik saja yang ada di sekitar kita.

Jangan lupa, bahwa selain orang-orang yang menyedihkan itu, kita masih punya sahabat-sahabat yang baik, Ibu yang menyayangi, kekasih yang mencintai...


Blog EntrySpeak to Me: Happy Nu YearDec 31, '07 5:41 AM
for everyone

Menghitung menit. Tahun akan berganti. Apa yang saya inginkan namun belum tercapai? Apa yang sudah saya mulai kerjakan namun belum selesai?

Banyak kerjaan yang belum rampung. Memang. Padahal mungkin idealnya selesai jauh-jauh hari. Agar tahun baru, biarlah hanya pekerjaan baru saja yang boleh saya kerjakan. Namun sepertinya saya masih harus menyelesaikan beragam pekerjaan yang tak kunjung selesai karena terlalu lama saya mengerjakannya. Tidak serius, tidak fokus, dan membiarkan semua pekerjaan tertunda.

Banyak hal yang saya inginkan namun belum tercapai karena usaha saya untuk mendapatkannya tak optimal. Terlalu santai, kurang energi. Karena banyak alasan mengapa keinginan-keinginan itu belum juga terwujud.

Seyogyanya, awal tahun perlu saya selesaikan semua hutang pekerjaan. Seperlunya, saya capai semua keinginan yang belum tercapai. Di awal tahun depan. Agar tahun baru, biar hanya pekerjaan baru dan keinginan-keinginan baru yang ada.

Selamat tahun baru, Usep Suhud!

 


Blog EntryWhat A Friend We Have In Ibu Pertiwi: Skandal?Dec 26, '07 9:52 PM
for everyone

Saya sedang menonton film Korea bersetting Amerika denga judul 'Never Forever'. Pada hampir selesai film tersebut, digambarkan sejumlah jemaat sedang menyanyikan lagu "What A Friend We Have In Jesus" dalam sebuah gereja.

Since i am not cristian, saya langsung browsing. Lagu tersebut mirip sekali iramanya dengan salah satu lagu nasional yang kita selalu kita nyanyikan dan banggakan dulu. Iya, dulu.

what a privilege to carry
everything to god in prayer
o what peace we often forfeit
o what needles pain we bear
all because we do not carry
everything to god in prayer


Saya yang baru bangun dan baru denger lagu tersebut atau memang ini skandal lama penjiplakan lagu?

Please check this site:
http://www.geocities.com/Heartland/Lake/3888/Prayerintroduction1.html

 


Blog EntrySelamat Tinggal KebebasanDec 25, '07 6:55 PM
for everyone

Suatu ketika, saya tiba-tiba merasa sangat sendu. Jakarta melompong kehilangan warga, jalanan ompong. Satu per satu sahabat mengabari mereka ke sana-sini menghabiskan waktu berlibur. Saya? Di Jakarta saja.

Ada sesuatu yang hilang. Saya merasakan sekali itu. Bayangkan, hampir setiap akhir tahun biasanya saya juga berada jauh dari rumah. Melanglang buana. Menikmati kesendirian. Meneguk kebebasan sedalam-dalamnya. Jujur, ada perasaan tersayat. Dan saya membiarkan rasa ini mengharubiru. Membiarkan nelangsa ini menyudutkan.

Sejurus kemudian, saya perlu menyadari. Apa yang sudah saya raih bukanlah sesuatu yang harus saya sesali. Bukan hal mudah dan murah bisa saya daki bukit kehidupan hingga setinggi sekarang. Akhir tahun ini saya di rumah menemani istri yang kepayahan menjaga kandungan, akhir tahun depan saya kan bisa ajak istri dan anak saya bepergian.

Ah, saya lalu berkhayal tentang perjalanan yang akan kami jalani bersama. Bayangkan kerepotan membawa momongan dalam sebuah traveling. Tapi tak akan mengalahkan kegembiraan kami menjalaninya. Insyaallah. Semoga Tuhan meridhoi.

 

 


Blog EntryMereka-reka ResolusiDec 18, '07 10:59 PM
for everyone

Sudah buat resolusi untuk tahun depan? Saya sedang mereka-reka. Mau ini, mau itu. Pingin ini, pingin itu. Banyak sekali. Mulai dari yang besar-besar, sampai yang kecil-kecil.

Ah, saya ingin bisa main gitar. Bisa main gitar, kayaknya sedap sekali. Belajar sendiri ternyata bukan type saya. Perlu ada yang supervisi. Supaya disiplin dan tertib. Tiga atau empat tahun lalu saya pernah masuk kelas musik, gitar klasik. Tapi membosankan. Bukan klasiknya, tapi sistem pengajarannya. Bayangkan, kelas hanya berlangsung tiga puluh menit per sesi. Baru mulai sudah habis waktunya. Lalu berhenti.

Kini saya mulai lagi belajar. Mengundang guru ke rumah. Seminggu tiga kali selama satu jam, yang gombrang-bambreng langsung memainkan lagu! Sedikit teori, praktek banyak. Iyalah. Saya kan tidak bercita-cita jadi pemusik. Sekedar ingin bisa saja. Maklum dulu waktu saya kecil, banyakan main di sawah dari pada belajar gitar.

Resolusi lain, ada. Tapi tak ingin saya tulis di sini. Tentu saja sesuatu yang serius dan saya komit untuk mewujudkannya di tahun depan.

Terakhir, saya ingin mendaftarkan diri untuk bisa menunaikan ibadah haji bersama istri. Biar tahun berikutnya masuk dalam kuota pergi ke Mekah. Semoga dimudahkan dan dikabulkan.

 


Blog EntryWatch Out! Something is Coming to You!Dec 18, '07 9:53 PM
for everyone

Sesuatu yang entah apa tiba-tiba menyundul-nyundul pikiran. Saya berusaha menepis tapi terus mengganggu. Saya ambil nafas sejenak, konsentrasi. Lalu saya tahu harus menghubungi siapa saat itu juga. Seorang sahabat saya mendengarkan dengan seksama ocehan saya di seberang telepon. Karena dia pernah tahu tentang 'kebisaan' saya, obrolan langsung nyambung.

Tepatnya, saya memberi peringatan kepada dia: Sesuatu tengah menghampiri dia. Tapi saya tak tahu apa. Hati-hati saja. Tak seberapa lama setelah telepon ditutup, saya kembali menghubungi dia: Sesuatu yang buruk! Lakukan ini, lakukan itu. Hindari ini, hindari itu.

Sayangnya, saya tak bisa memprediksi sesuatu itu akan datang seberapa cepat. Hingga sahabat saya itu belum sempat melakukan instruksi saya. Sesuatu yang buruk itu memang benar-benar datang. Saya hanya bisa menghela nafas.

Peringatan lain saya terima untuk seorang sahabat saya yang lain: Kamu akan mendapatkan undangan untuk pergi ke daerah selatan. Ambil kesempatan itu karena kamu mungkin akan bertemu seseorang di sana. Selanjutnya, kamu perlu meninggalkan tempat tinggal yang sekarang kamu tinggali. Pindah!

Tak ada yang terjadi, karena sahabat saya yang ini tidak merespon dengan segera.

Sahabat saya lainnya, minta pendapat tentang kekasihnya yang tepisah oleh lautan. Apakah dia baik atau tidak, perlu dilanjutkan apa tidak. Saya berjanji untuk membantunya. Malam itu, saya ingatkan dia untuk melakukan ini itu dan dia melakukannya. Ajaib, tak harus lama menunggu ia bisa menjawab pertanyaan dia sendiri tentang kekasihnya itu.

Kali lain, saya memberi bimbingan kepada sahabat lainnya agar mengganti model rambut karena ia ingin melakukan perubahan dalam hidupnya. Di waktu yang lain, saya menganjurkan sahabat lain agar membuka komunikasi dengan ibunya karena menurut 'penglihatan' saya, hubungan mereka sedang tidak harmonis dan itu mengganjal langkah dia memperoleh kebahagiaan.

Begitulah. Saya sangat bersyukur bisa membantu para sahabat. Tapi tentu saja saya tak ingin memaksakan kepada mereka untuk menuruti kata-kata saya. Saya bukan dukun atau rabi. Sekedar diberi kemampuan lebih saja yang juga tak berlebihan.

Peringatan atau anjuran saya, mungkin ada yang bersifat harus segera dilakukan. Mungkin ada juga yang kapan-kapan saja dilakukan. Saya serahkan kepada para sahabat saya apakah mereka perlu menggubris apa tidak. Apakah mereka akan mencemooh atau tidak.

Lagian, siapa yang bisa menjamin bahwa petunjuk-petunjuk itu benar adanya? Untuk hal ini, saya hanya minta mereka percaya kepada Tuhan. Saya percaya bahwa petunjuk-petunjuk yang saya terima adalah benar dari Tuhan berkat puasa-puasa yang sering saya jalani, berkat mengurangi jam tidur karena saya perlu membentang sajadah, berkat surat-surat yang sering saya kumandangkan, berkat butiran tasbih yang kerap saya usap.

Yeah, tidak pernah terucap sekali pun dalam doa saya minta diberi 'kebisaan' ini, kecuali atas seijin Tuhan.

Maka ketika seorang sahabat berkeluh kesah ingin mendapatkan jodoh segera: putuskan pacarmu yang sekarang, tunggu beberapa saat, seseorang akan melamarmu. Sahabat saya ajeg.. Benar saja, orang itu datang. Melamar!  Namun dia terlalu sibuk berasmara dengan kekasihnya itu. Hehe, lagian, sekali lagi, siapa yang bisa menjamin petunjuk untuk para sahabat saya yang Tuhan berikan lewat saya bisa benar kejadiannya.

 

 


Blog EntryNama Indah itu untuk Anak KamiDec 17, '07 8:15 AM
for everyone

Tidak biasanya, badan saya merinding tak putus-putus ketika membaca salah satu surat Al Quran. Karena penasaran, segera saya buka terjemahannya. Surat itu bernama Ar Ra'd. Saya tak mengerti apa yang sedang terjadi dan tak tahu apa hubungannya. Namun tiba-tiba saya menemukan sebuah kata indah untuk saya jadikan nama dari calon anak saya. Kata itu saya simpan untuk kemudian akan saya hadiahkan untuk si buah hati jika waktunya tiba.

Istri saya menyodorkan nama ini, kami catat. Saya memberikan nama itu, kami catat. Semua alternatif dikumpulkan. Saya sendiri pernah berucap, semoga suatu saat nanti akan mendapat petunjuk nama bagi si jabang bayi.

Memasuki bulan kelima, saya dan istri memang sedang membuat daftar nama untuk bayi. Belum tahu jenis kelaminnya, jadinya masih berspekulasi. Tapi sebetulnya, kami memang tak merasa perlu tahu sebenar-benarnya jenis kelamin si jabang bayi. Kami tak ingin memilih mana yang paling kami suka antara bayi perempuan atau lelaki. Ketika kata itu membentur hati, bahkan saya tak bisa melihat kecenderungan apakah kata itu cocok untuk bayi perempuan atau justeru lelaki. Kata itu bisa mewakili keduanya. Dan yang terpenting adalah, istri saya setuju dengan nama temuan itu.

Alhamdulillah.  


Blog EntryMengalir? Mengalir Seperti Apa?Dec 15, '07 8:15 PM
for everyone

Banyak dari kita berucap, 'Saya menjalani hidup ini mengalir saja seperti air...'. Hal yang sesungguhnya tidak dimengerti sama sekali oleh si pemilik ucapan. Mengapa harus mengalir seperti air? Mengapa mengalir? Bagaimana mengalirnya? Mengalir kemana? Mengapa harus mengalir terus? Capek, dong!?

Manusia yang memiliki prinsip hidup mengalir itu tidak ngoyo. Dapat yang dia mau syukur, tidak dapat pun tetap bersyukur. Tidak ada kata 'harus'. Hanya seperlunya. Saya perlu menjadi orang kaya, bukan harus. Saya perlu mendapatkan projek, bukan harus. Saya perlu pintar, bukan harus. Saya perlu memiliki pasangan, bukan harus.

Manusia yang memiliki prinsip hidup mengalir itu bijaksana. Tidak memihak, adil, dapat mengukur kemampuan diri sendiri, low profile, dapat menyesuaikan diri. Bergerak ketika waktunya bergerak, diam ketika waktunya diam.

Saya selalu menyebut prinsip hidup saya mengalir. Mengalir seperti angin. Membumbung ketika waktunya membumbung, merendah ketika waktunya merendah. Ah, saya hanya manusia biasa. Bahkan tak bisa menyerupai air yang penuh keelokan, penuh kearifan.

 


Blog EntrySakit Mendekatkan Kita pada KamatianDec 5, '07 5:21 PM
for everyone

Partner kerja saya pamit mau ke luar kota untuk menjenguk ayahnya yang masuk rumah sakit karena mesti dirawat. Kabar mengejutkan juga saya terima mengabarkan ibu saya kena serangan asam urat. Seorang sahabat kecil saya mesti operasi karena tulang tumitnya retak. Dari London, sahabat saya mengabarkan ibu dari sahabat saya lainnya siap-siap juga masuk rumah sakit karena sakit yang dideritanya.

Sakit bukanlah kabar baik. Sekali, saya pernah dirawat di rumah sakit. Saya merasa itu cukup. Sejuta janji untuk menjaga kesehatan saya umbar. Sakit itu merepotkan. Sakit membuat kita perlu menunda semua rencana. Sakit itu menguras persediaan uang. Sakit itu menyusahkan orang-orang di sekitar kita.

Saat sakit kita bisa melihat bagaimana hubungan kita dengan orang-orang yang sebenar-benarnya. Saat sakit kita bisa melihat refleksi doa dan kasih sayang dari orang-orang yang kita kenal.

Sakit mendekatkan kita pada kematian. Siapa sangka, begitu kita masuk rumah sakit, sebetulnya itu adalah perjalanan terakhir kita keluar rumah? Sesederhana apa pun sakit kita. Ada orang yang karena luka kecil saja bisa mati. Ada orang yang karena pusing saja tak bangun lagi.

Tapi menjadi sakit adalah manusiawi. Berani hidup, mesti siap sakit. Sakit bukanlah sesuatu yang harus disumpah serapahi. Sakit itu tetap harus dihadapi. Jika kita membuka mata dan hati selebar-lebarnya, justeru saat kita bisa berdialog dengan Tuhan dengan lebih khusu.

Sakit adalah salah satu signal yang diberikan alam kepada kita tentang kematian. Saat sakit, mestinya kita bersiap untuk berpulang.


Blog EntryIkhlas Itu Susah SekaliDec 3, '07 6:52 AM
for everyone

Seumur hidup, kerap saya berhadapan dengan orang-orang yang sangat di luar dugaan tabit dan perilakunya. Ada yang serakah main caplok jatah orang lain, ada yang sok tahu melebihi yang tahu, ada yang susah diatur dan mengatur diri, ada yang sensitif gampang ngambek, ada yang berkhianat...

Sebagus-bagus saya menahan diri untuk selalu sadar agar sifat aseli saya tak muncul, sering kali saya kalah. Menghadapi orang-orang demikian, tak jarang saya terpancing untuk meladeni. Jadi senewen, jadi sebal, jadi uring-uringan, jadi mengutuk, jadi ikutan marah.

Saya bukan mereka. Saat mereka berperilaku 'aneh', saya selalu mengingatkan diri untuk tidak ada pada level rendah mereka. Saya harus menarik diri ke level yang lebih tinggi. Supaya tak terbawa arus antipositif. Namun selalu gagal.

Sekali dua, saya berhasil mengekang diri. Mengupahi dengan seribu kata mutiara. Saya harus bisa mengendalikan situasi, bukan ikutan bermain dalam luapan ketidakberkualitasan sikap dan sifat. Saya tak boleh seperti itu.

Bayangkan, ketika saya melihat seseorang yang tak mau terbantahkan berargumentasi sesuatu, saya ikut-ikutan ngotot mempertahankan pendapat. Padahal, orang lain pun tahu bahwa pendapat saya penuh kebenaran. Tapi karena cara saya menyampaikan dengan otot dan octaf yang tinggi, orang tetap menganggap saya pecundang. Tak mau mengalah.

Setiap orang boleh punya alasan untuk menjadi si kasar, si pelit, si galak, si judes, dan lain-lain. Namun lain kali, sebaiknya saya tidak menjadi oportunis untuk menjadi pengekor pemilik sifat-sifat jelek itu.

Setiap hari, harus berikrar untuk menjadi lebih baik. Saya rasa, pesoalan di atas tak akan terjadi jika hati saya dipenuhi syukur dan keiklasan. Ikhlas ketika seseorang menuding saya bodoh. Ikhlas walaupun seseorang menganggap saya tak berkualitas. Ikhlas meskipun seseorang berbuat tak adil atas diri saya. Maka tak akan pernah ada beban di hati.

Biarkan semesta yang menghakimi.

 


Pages:123456789
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.